Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Cerita Ekstasi dari Tokyo, Rasa dan Akibat MDMA “The Gateway Drug”

Ama Farah
Terakhir diupdate: 7 Januari 2020 19:26 7:26 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 7 Januari 2020 19:26
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Seorang pria di Tokyo menjajal pil MDMA, narkoba sintetik yang populer dengan nama pil ekstasi. Setelah obat bereaksi dia merasakan euphoria (kegembiraan luar biasa) sehingga mudah mengajak para wanita bercakap-cakap di sebuah klab malam kesukaannya.

MDMA lantas menjadi semacam bahan bakar bagi kehidupan malam pria tersebut, yang tinggal di daerah Nakano, Tokyo.

Pria Nakano tersebut mengaku didorong temannya untuk mencicipi MDMA sekitar 20 tahun silam, di sebuah klab malam di Shibuya. Kira-kira 15 menit setelah menelan pil, dia merasa mabuk kepayang dan bahagia. Sensasi euphoria itu berlangsung beberapa jam lamanya.

“Saya merasa tidak ada beban (melambung), dan hal itu menjadikan saya mudah mengajak wanita bercakap-cakap,” kenangnya.

Menenggak ekstasi kemudian menjadi kebiasaan, demikian pula menggoda para wanita di klub.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Saya menggunakannya tanpa beban, seperti mengkonsumsi suplemen,” kisah pria itu.

Namun, dia kemudian mengetahui mengapa ekstasi juga disebut “gateway drug”.

“Saya tidak menyangka bahwa saya bisa sangat ketagihan dengan obat itu,” ujarnya.

Dari ekstasi, pria Nakano itu kemudian ingin mencicipi jenis narkoba yang lebih berat. Dia mulai menggunakan mariyuana dan kokain.

Suatu hari, dia memperoleh bubuk putih dari seorang pengedar. Barang itu berupa methamphetamine, dan dia pun ketagihan dengan stimulan itu.

Pria Nakano ini ditangkap pada tahun 2007 dalam kasus narkoba. Namun, dia tidak dapat menghilangkan kecanduannya, sehingga dia ditangkap untuk kedua kalinya dan dijebloskan ke dalam sel penjara.

Tidak hanya itu, pria Nakano ini juga dipecat dari pekerjaannya dan bercerai dari istrinya.

Sekarang dia berusia 46 tahun dan sudah menikah kembali. Akan tetapi, dia masih merasakan godaan untuk menggunakan narkoba lagi.

Masahiko Funada, kepala bagian Departemen Riset Ketergantungan Narkoba di Institut Kesehatan Mental Nasional, mengatakan bahwa penggunaan MDMA secara terus menerus akan “meningkatkan ketergantungan, sehingga pecandunya ingin merasakan jenis narkoba lain yang lebih kuat seperti kokain dan stimulan lainnya,” kutip Asahi Shimbun Selasa (7/1/2020).

Penangkapan aktris Erika Sawajiri atas kepemilikan MDMA bulan November 2019 menjadikan masalah ekstasi kembali disoroti di Jepang, terutama penggunaannya di kalangan anak muda.

Menurut data Kepolisian Nasional Jepang, 42 individu ditangkap atau menjadi target operasi dalam kasus MDMA dan narkoba sintetis lainnya antara Januari dan Juni 2019. Angka itu hampir dua kali lipat dari periode yang sama tahun 2018.

Pada masa itu, sekitar 43.000 butir pil MDMA disita aparat, atau hampir 90 kali lebih banyak dari total sitaan tahun 2014.

Dalam satu tangkapan besar, seorang pria Jerman diringkus di Bandara Kansai dengan bawaan berupa 10.000 pil MDMA di dalam kopernya.

Sebagian besar narkoba itu diselundupkan ke Jepang dari Belanda, Inggris, Jerman, Prancis dan negara Eropa lainnya, kata kepolisian.

Sesampainya di Jepang, ekstasi itu diedarkan oleh dealer seperti seorang wanita berusia 20-an tahun ini, yang bersedia berbicara dengan Asahi Shimbun tentang pengalamannya sebagai pengedar narkoba di masa lalu.

Wanita muda itu mengatakan dia mendapat pesanan dari broker-broker di klab malam di distrik Shibuya dan Roppongi, Tokyo. Wanita itu kemudian akan mengunjungi klab-klab malam itu, melakukan kontak mata dengan broker untuk menkonfirmasi calon pembeli, lalu bicara dengan kliennya.

“Sulit untuk kena tangkap karena suara musiknya sangat keras dan klab penerangannya temaram,” cerita wanita itu, seraya menambahkan bahwa pelanggannya kebanyakan berusia 30-an tahun.

Bekas pengedar narkoba ini juga menyinggung tentang kasus Erika Sawajiri, 33, yang didakwa melanggar UU antinarkoba.

“Setiap pil dijual dengan harga 5.000 yen (sekitar 639.900 rupiah),” ujarnya. “Tipe kapsul seperti yang ditemukan di rumah Sawajiri itu disebut ‘pure’ yang level kemurniannya tinggi. Saya menjual yang semacam itu 7.000 yen sebutir,” paparnya.

Juga dikenal dengan nama “batsu” di Jepang, MDMA tinggal langsung ditelan untuk merasakan sensasi “melayang” yang ditimbulkannya. Efek dari narkoba itu, orang seperti mendapatkan energi ekstra dan halusinasi.

“Penghuna umumnya tidak terlalu merasa berdosa mengkonsumsinya, sebab tidak perlu menggunakan alat suntik seperti narkoba stimulan lain,” kata seorang sumber investigasi kepada Asahi Shimbun.*

kurs 1 yen Jepang = 127,9 rupiah.

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ekstasiMDMAShibuyaTokyo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menyusul Pembunuhan Soleimani, Jerman Kurangi Jumlah Tentaranya di Iraq
Tulisan selanjutnya Prof Din: Menguatnya Arus Liberalisme Jadi PR Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?