Hidayatullah.com—Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia menunggu China mengizinkan pabrik-pabrik dibuka kembali hari Senin (10/2/2020).
Apabila hal ini tidak terjadi, merek-merek besar mulai dari industri otomotif hingga teknologi akan kesulitan membuat produk mereka.
Komponen-komponen yang mereka butuhkan menipis menyusul penutupan paksa pabrik-pabrik oleh China guna mencegah penyebaran coronavirus.
China, yang dikenal sebagai “factory of the world”, memainkan peran sangat penting dalam rantai suplai global dan perekonomian dunia.
Otoritas China memerintahkan perusahaan-perusahaan memperpanjang liburan Imlek hingga 10 Februari, dengan harapan wabah coronavirus tidak semakin menyebar.
Kekhawatirannya sekarang adalah kemungkinan penutupan pabrik akan diperpanjang, sebab sebagian otoritas lokal mendesak agar pabrik-pabrik tetap ditutup.
Dampak penutupan tersebut telah dirasakan oleh Hyundai, pabrikan otomotif terbesar kelima dunia. Hyundai terpaksa menghentikan produksinya di Korea Selatan sebab kekurangan suku cadang yang didatangkan dari China.
Perusahaan-perusahaan otomotif lain seperti Tesla, Volkswagen dan Toyota, memperingatkan bahwa mereka juga mengalami gangguan serupa.
“Penutupan tidak hanya berdampak pada perusahaan tertentu saja, melainkan manufaktur secara keseluruhan sebab masih belum jelas berapa pekerja pabrik yang akan kembali bekerja setelah liburan yang diperpanjang ini,” kata Iris Pang, ekonom di ING yang memperhatikan aktivitas perekonomian China, seperti dikutip BBC Jumat (7/2/2020).
Kerugian ekonomi dari wabah coronavirus ini melebar ke mana-mana, tidak hanya sektor manufaktur tetapi juga aktivitas penerbangan dan rantai suplai dunia.
Taman-taman rekreasi dan kasino juga dipaksa untuk tutup, termasuk Disneyland di Shanghai dan Hong Kong yang tutup selama dua bulan.
Pekan ini, kasino-kasino di Macau diminta tutup sementara, sedangkan Starbucks dan McDonalds tidak berjualan selama beberapa pekan.
Perusahaan perjudian Wynn Resorts mengaku kehilangan $2,5 juta per hari di Macau karena tempat usahanya ditutup. Kasino itu mempekerjakan sekitar 12.000 orang di wilayah otonomi khusus China tersebut.*