Hidayatullah.com—Seorang pendeta asal Nigeria terpaksa meninggalkan tempat tugasnya sebagai kepala paroki di sebuah daerah di bagian barat Jerman, karena khawatir dengan keselamatannya. Demikian diumumkan pejabat gereja setempat hari Jumat (17/4/2020).
Pastor itu, Patrick Asomugha, dan Keuskupan Speyer mengambil keputusan itu setelah rohaniwan gereja tersebut mendapatkan ancaman mati bulan lalu,lansir DW.
“Khawatir akan keselamatan dan kesejahteraan pastor Asomugha menjadikan langkah ini tidak terelakkan,” kata Andreas Sturm, vikaris umum untuk Keuskupan Speyer, dalam sebuah pernyataan. “Akan tidak bertanggung jawab membiarkan pastor Asomugha terus menerima ancaman tersebut.”
Asomugha mengambil alih tugas di sebuah paroki di Queidersbach, sebuah wilayah kecil di bagian barat Jerman dekat kota Kaiserslautern pada tahun 2017.
Masalah mulai dihadapinya tahun lalu, ketika sejumlah orang tak dikenal memasuki rumah dinasnya tanpa izin. Dalam dua kali kejadian para tersangka melakukan perusakan cukup parah terhadap properti miliknya.
Jemaat di lingkungan parokinya semakin bertambah kasar memperlakukan pastor asal Nigeria itu. Orang-orang kabarnya mengutarakan ujaran rasis selama kebaktian berlangsung di dalam gereja. Lembaga penyiaran publik setempat SWR melaporkan bulan Juli tahun lalu bahwa para orangtua terdengar mengatakan, “Saya tidak akan membiarkan anak saya dibaptis oleh orang kulit hitam.”
“Saya tidak akan mengambil apapun dari tangan-tangan hitam kotor itu,” kata seorang jemaat, yang konon diutarakan saat Asomugha memimpin ekaristi di gerejanya. Sebagaimana diketahui dalam prosesi keagamaan itu pendeta membagikan kue kecil dan minuman anggur secara bergiliran kepada jemaat. Kala itu Keuskupan Speyer menolak memberikan komentar atas laporan perihal kejadian-kejadian tersebut.
Tahun lalu, seseorang merobek ban mobil Asomugha. Perlakuan yang ditujukan terhadap pendeta berkulit hitam itu semakin lama semakin buruk. Puncaknya ketika sebuah surat berisi ancaman mati diselipkan di bawah pintu garasi rumah dinasnya. Dua hari kemudian, orang-orang tak dikenal mencampakkan botol-botol yang diyakini diisi dengan alkohol, yang merupakan zat yang mudah terbakar, di jalan masuk menuju rumah paroki di mana pastor itu tinggal.
Asomugha dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa ancaman mati itu membuatnya sulit untuk melaksanakan tugas di Queidersbach.
Menurut gereja, Asomugha berulang kali meminta agar dilakukan rekonsiliasi dan perdamaian di lingkungan parokinya dan dalam komunitas yang lebih luas.
Pada bulan Oktober 2019, gereja di Queidersbach menggelar “misa solidaritas” untuk Asomugha. Sekitar 600 orang menghadiri acara itu dan siap melawan rasisme di daerah tempat tinggal mereka tersebut.
Namun demikian, sikap permusuhan dan ancaman tidak juga kunjung berhenti dan bahkan semakin menjadi.
Asomugha dijadwalkan akan meninggalkan paroki tempat tugasnya pada hari Senin besok, tetapi tugas barunya belum diungkapkan oleh Keuskupan Speyer.*