Hidayatullah.com– Baru-baru ini sebuah video ulama Saudi terkemuka, Salman al-Audah dari dalam penjara diposting di media sosial. Ini adalah untuk pertama kalinya publik mendengar suara sang ulama sejak penangkapannya. Ulama yang ditahan itu berbicara di telepon dengan ibu dan putrinya Ghada, terdengar di sebuah video yang dibagikan oleh akun Twitter ‘Prisoners of Conscious’.
“Saya baik-baik saja, Alhamdulillah,” kata Audah kepada keluarganya dalam panggilan telepon di mana mereka membahas Ramadhan di bawah penguncian virus corona.
Ibu dan anak perempuan Audah juga menanyakan kesehatan dan kesejahteraannya di dalam penahanan. “Ya saya baik-baik saja, jangan khawatir tentang saya. Bagaimana kabarmu?”
https://twitter.com/s_hm2030/status/1261030868216360970
Permintaan telepon itu dibolehkan untuk obrolan ringan, dan panggilan teleponnya dipantau oleh otoritas penjara. Ini adalah rekaman pertama dari syekh reformis sejak September 2017, ketika ia dan 20 lainnya, termasuk penulis dan jurnalis, ditangkap sebagai bagian dari tindakan keras terhadap perbedaan pendapat di kerajaan.
Baik keluarga Audah dan media Saudi sebelumnya mengatakan ulama yang dipenjara menghadapi hukuman mati, tetapi lembar tuduhan belum diumumkan kepada publik. Menurut putra Audah yang tinggal di Amerika Serikat (AS), Abdullah Al-Audah, ulama menjadi sasaran perlakuan yang diklasifikasikan sebagai penyiksaan, termasuk kurang tidur, kurangnya perawatan kesehatan dan interogasi yang kasar.
Kelompok hak asasi manusia mengatakan pengadilan itu adalah pembalasan politik terhadap Audah, tokoh terkemuka dalam gerakan Islam 1990-an yang dikait-kaitkan dengan Ikhwanul Muslimin. Dikutip The New Arab, Audah menulis ratusan artikel tentang hukum Islam dan pada saat yang sama merangkul modernitas dan demokrasi.
Kasus Audah menarik perhatian internasional pada 2018 ketika Penuntutan Publik Arab Saudi mengajukan 37 dakwaan terhadapnya, termasuk ‘tidak cukup berdoa kepada penguasa’ dan menerima pesan teks yang menggerakkan perselisihan di wilayah itu. Menurut Amnesty, Audah ditangkap beberapa jam setelah memposting tweet yang menyerukan “harmoni antara orang-orang” yang ditafsirkan oleh otoritas Saudi sebagai seruan untuk rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Qatar.
Otoritas Kerajaan Arab Saudi (KSA) menangkan Syeikh al Audah pad tahun 2017, sebagai tindakan keras terhadap kelompok Islam yang dianggap mengkritik kerajaan, tulis Reuters.
Syeikh Salman al-Audah, dikenal sebagai seorang ulama berpengaruh yang pernah dipenjara dari tahun 1994-1999 karena dituduh melakukan agitasi perubahan politik dan memiliki 14 juta pengikut di Twitter, dikabarkan telah ditahan akhir pekan lalu.
Dalam salah satu posting terakhirnya di Twitter, Syeikh Salman menyambut baik sebuah laporan pada hari Jumat yang yang mengindikasikan konflik tiga bulan antara Qatar dengan sejumlah Negara Teluk telah berhasil diselesaikan.
“Semoga Tuhan mendamaikan hati mereka demi kebaikan ummat,” tulis Awdah dalam akun resmi Twitternya setelah muncul berita percakapan telepon antara Emir Qatar, Tamim bin Hamad al-Thani, dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman.*