Hidayatullah.com—Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Michael R Pompeo mengeluarkan pernyataan resmi pada 1 Juli, 2020 yang mendesak Turki agar tetap mengukuhkan status Hagia Sophia sebagai museum.
Akhir-akhir ini wacana mengubah kembali Hagia Sophia menjadi masjid mengemuka. Bagi kebanyakan masyarakat Turki diubahnya Hagia Sophia dari masjid menjadi museum pada 1935 masih dianggap sebagai luka. Menurut survey termutakhir 70 persen lebih rakyat Turki mendukung rencana perubahaan ini.
Hagia Sophia selesai dibangun pada tahun 537, setelah penaklukan yang dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453, bangunan ini dijadikan sebagai Masjid.
Hagia Sophia diubah dari masjid menjadi museum di bawah dekrit kabinet rezim Turki sekuler Kemal Ataturk pada tahun 1934. Sekarang Presiden Tayyip Erdogan yang didukung rakyat Turki telah mengusulkan untuk mengembalikan Hagia Sophia, yang disebut Ayasofya dalam bahasa Turki, sebagai sebuah masjid lagi.
Pemerintah Amerika lewat Menteri Luar Negeri mendesak Turki agar tak mengubah status Hagia Sophia, yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Area Historis dari Situs Warisan Dunia Istanbul, menjadi Masjid dengan alasan penghormatan terhadap sejarah dan tradisi keimanan dan agar ia tetap terbuka bagi semua.
“AS memandang perubahan pada status situs yang memiliki sejarah rumit dan kaya ini sebagai, mengurangi nilai warisan bangunan yang luar biasa ini dan kapasitasnya yang tak terbatas -yang sangat langka di dunia modern- dalam pelayanan kemanusiaan sebagai jembatan yang sangat dibutuhkan antara mereka yang berbeda agama, tradisi, dan budaya.” Kata Pompeo.
Sebelumnya, melalui Komisi A.S. untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF), Amerika juga pernah mendesak Erdogan untuk tidak mengubah status Hagia Sophia pada 24 Mei, 2014.*