Hidayatullah.com—Para pengungsi Rohingya di Bangladesh memilih untuk mengesampingkan perjuangan hidup mereka demi membantu para penganut Hindu yang juga menjadi pengungsi akibat tindakan keras pemerintah Myanmar di Rakhine, para pemimpin Rohingya mengatakan kepada Anadolu Agency pada Jumat (2/10/2020).
Serangan militer terhadap negara bagian di Myanmar barat itu telah membuat hampir 200.000 orang, sebagian dari mereka penduduk sipil Buddha, sejak 2018 ketika kelompok pemberontak Buddha Arakan Army (AA) memulai pemberontakan mereka melawan angkatan bersenjata Myanmar.
“Kita semua adalah manusia, kita dan penganut Buddha di Arakan [Rakhine] semuanya berasal dari negara yang sama, terlepas dari identitas etnis kita,” Mohammad Kamal Hossain, seorang pemuda Rohingya yang tinggal di kamp pengungsi Kutupalong di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh tenggara mengatakan kepada Anadolu Agency.
“Mereka pernah berbagi kesedihan kami dan membantu kami selama pembantaian tahun 2017 [oleh militer Myanmar]. Sekarang kami melakukan apa yang kami bisa untuk mendukung mereka pada saat mereka membutuhkan.”
Sebuah tim yang terdiri lebih dari 150 pemuda Rohingya, sebagian besar pelajar, mengumpulkan sumbangan dari sesama pengungsi di kamp-kamp di Cox’s Bazar, tempat lebih dari satu juta orang Rohingya telah menetap.
Tim yang menyebut diri mereka Jaringan Pendidikan dan Masyarakat Altruisme Arakan itu berhasil menggalang dana hingga 500.000 Kyat Myanmar ($383) dan mengirimnya ke para pengungsi Buddha melalui kerabat mereka, kata Hossain.
“Kami selalu berhubungan dengan teman-teman kami di Rakhine dan akan selalu mendukung orang-orang sebangsa kami, terlepas dari identitas agama atau etnis kami,” katanya.
Awal tahun ini, masyarakat Rohingya di Sittwe, ibu kota Negara Bagian Rakhine, menyumbangkan 300.000 Kyat Myanmar ($230) untuk membantu orang lain yang telah mengungsi.
Bulan lalu, 29 kelompok advokasi Rohingya di seluruh dunia mengumumkan solidaritas mereka dengan warga sipil Rakhine lainnya yang dianiaya oleh tentara Myanmar.
“Perjuangan kami untuk keadilan adalah perjuangan untuk semua orang yang telah terbunuh, terluka atau dianiaya oleh Tatmadaw,” bunyi pernyataan bersama itu, merujuk pada sebutan Militer dalam bahasa Myanmar.
Pernyataan bersama itu menyebut militer melakukan “kejahatan perang dan kekejaman” terhadap warga sipil Rakhine.
“Bagi kami Rohingya, kejahatan ini sangat familiar,” katanya. “Kami berdiri dalam solidaritas dengan saudara dan saudari Rakhine kami.”
Operasi militer pada 2017 memaksa sekitar 750.000 Rohingya melarikan diri dari Rakhine ke Bangladesh dalam kekerasan yang sekarang membuat Myanmar menghadapi dakwaan genosida di pengadilan tinggi PBB.