Hidayatullah.com–Jerman dan Belanda sedang mengkaji kemungkinan penundaan vaksinasi dosis kedua coronavirus dalam upaya menginokulasi lebih banyak orang.
Dilansir Euronews Selasa (5/1/2021) European Medicines Agency mengatakan dosis kedua harus diberikan dalam kurun enam pekan setelah suntikan pertama guna memastikan proteksi maksimum.
Namun, sejumlah negara bermaksud memperpanjang jeda itu. Mereka ingin dosis pertama diberikan ke sebanyak mungkin orang yang dianggap paling rentan.
Menteri Kesehatan Jerman mengatakan kepada Euronews bahwa pihaknya sudah bertanya kepada Robert Koch Institute untuk mendapatkan opini pakar tentang apakah dosis kedua vaksin coronavirus buatan Pfizer/BioNTech yang telah memperoleh izin bisa diberikan lebih dari tiga bulan setelah dosis pertama.
Belanda juga berusaha meminta opini para ahli tentang kemungkinan penundaan suntikan dosis kedua, kata Kementerian Kesehatan Belanda mengkonfirmasi kepada Euronews.
Pemikiran untuk menunda vaksinasi dosis kedua itu muncul setelah Inggris mengatakan akan menunda pemberian dosis kedua sampai 12 pekan setelah dosis pertama, dengan harapan akan ada lebih banyak orang yang bisa diberikan dosis pertama. Ide ini menyulut perdebatan di kalangan pakar.
Pfizer dan BioNTech memperingatkan bahwa keamanan dan keampuhan vaksin belum dites dalam jadwal pemberian dosis yang berbeda. Mereka mengatakan mayoritas partisipan dalam uji klinik diberikan vaksin dosis kedua dalam kurun waktu tiga pekan.
Dosis kedua vaksin buatan AstraZeneca/Oxford diberikan 28 hari setelah dosis pertama ketika uji klinik keampuhan vaksin dilakukan.
US Food and Drug Administration (FDA), Tidak sepakat dengan otoritas Inggris. FDA mengatakan diskusi tentang perubahan dosis atau jadwal vaksinasi itu didasarkan pada keyakinan bahwa perubahan itu akan dapat membantu menambah lebih banyak orang yang divaksin.
FDA menyimpulkan bahwa perubahan itu tidak didukung oleh bukti ilmiah yang memadai dan kemungkinan justru akan kontraproduktif bagi kesehatan publik.
Namun, para ilmuwan di Inggris mengatakan penundaan tersebut sepertinya tidak akan mengubah respon sistem imun.
Sebuah pernyataan dari British Society for Immunology menyebutkan bahwa kebanyakan
pakar imunologi akan sepakat penundaan sampai delapan pekan pemberian dosis kedua vaksin antigen itu sepertinya tidak akan berakibat negatif pada keseluruhan respon imun dari penyuntikan sebelumnya.
Kemudian pernyataan itu mengatakan, “dengan jumlah kasus dan kematian yang terus meningkat signifikan, kita perlu melindungi sebanyak mungkin orang dari penyakit Covid-19 parah dalam jangka pendek.”
Para pakar di Inggris mengatakan risiko penundaan suntikan vaksin kedua cukup kecil dan dengan penundaan itu akan ada lebih banyak orang yang terlindungi dari pandemi ini.
“Pemerintah bekerja dengan asumsi bahwa suplai vaksin akan bertambah dalam waktu tiga bulan mendatang, dengan demikian pemberian vaksin dosis kedua tidak akan menghalangi orang lain untuk mendapatkan vaksin dosis pertama,” kata Eleanor Riley, professor bidang imunologi dan penyakit menular di University of Edinburgh.
Sebagaimana diketahui vaksin coronavirus buatan Pfizer/BioNTech dan Oxford/AstraZeneca mengharuskan setiap orang diberi dua dosis agar terlindung dari Covid-19. Apabila suntikan kedua ditunda dan diberikan terlebih dahulu kepada orang lain, maka akan semakin banyak orang yang tercakup vaksinasi pertama.
Namun,Riley mengakui penundaan vaksinasi kedua itu bukan tanpa risiko.
“Risiko utama dari penundaan itu adalah sebagian orang mungkin tidak akan datang untuk suntikan dosis kedua. Semakin lama Anda menunda maka akan ada saja halangan –orang mungkin pindah rumah, dapat pekerjaan baru, mengalami sakit lain, kehilangan ponselnya dan tidak dapat dihubungi,” papar Riley, seraya menambahkan bahwa dalam keadaan normal jarak antara pemberian dosis pertama dan selanjutnya biasanya didasarkan pada pertimbangan kemanjuran vaksin dan cakupan terbaik vaksin.
Riley menegaskan, tak peduli apa masalahnya, yang harus dipastikan oleh pihak berwenang adalah setiap orang harus mendapatkan vaksinasi dosis kedua.*