Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Negara Kaya Memblokir Upaya Negara Miskin Memproduksi Vaksin Sendiri

Ama Farah
Terakhir diupdate: 20 Maret 2021 14:07 2:07 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 20 Maret 2021 14:07
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Negara-negara kaya, termasuk Inggris, memblokir proposal untuk membantu negara miskin meningkatkan kemampuan manufaktur vaksin mereka, demikian menurut dokumen yang dibocorkan kepada BBC Newsnight.

Sejumlah negara miskin telah meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar menolong mereka. Namun, negara-negara kaya menghalanginya sedemikian rupa sehingga negara miskin tidak dapat memproduksi vaksin untuk kebutuhannya sendiri. Begitu menurut salinan teks yang sedang digodok untuk sebuah resolusi WHO perihal isu tersebut yang diterima BBC.

Termasuk negara kaya yang menghalangi adalah Inggris, Amerika Serikat serta negara-negara Uni Eropa.

Banyak pakar mengatakan bahwa kesetaraan akses terhadap vaksin merupakan hal esensi untuk mencegah kasus dan kematian serta berkontribusi pada imunitas populasi global.

Akan tetapi, kemampuan global untuk memproduksi vaksin hanya sekitar sepertiga dari yang dibutuhkan, kata Ellen t’Hoen, seorang pakar kebijakan dan hukum kekayaan intelektual bidang obat-obatan, lansir BBC Sabtu (20/3/2021).

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Ini adalah vaksin-vaksin yang diproduksi di negara-negara kaya dan secara umum disimpan oleh negara-negara kaya itu,” kata Ellen t’Hoen.

“Negara-negara berkembang mengatakan kami perlu mendapatkan bagian dari kue pie itu, tidak hanya bagian berupa vaksin, tetapi juga bagian dari hak untuk memproduksi vaksin-vaksin ini,” imbuhnya.

Untuk dapat memproduksi vaksin diperlukan tidak hanya hak untuk memproduksi wujud vaksin itu (yang dilindungi oleh paten hak kekayaan intelektual), tetapi juga harus mengetahui bagaimana cara membuatnya, karena teknologinya bisa jadi sangat rumit.

WHO tidak memiliki kewenangan untuk meloncati soal paten. Organisasi itu hanya dapat menjembatani para pihak untuk mencari jalan agar produksi vaksin dapat ditingkatkan.

Dalam diskusi BBC Newsnight itu dibahas soal penggunaan ketentuan khusus dalam hukum internasional sehingga masalah paten dapat diatasi dan negara-negara yang membutuhkan bisa dibantu kemampuan teknisnya untuk memproduksi vaksin.

Akan tetapi kalangan pengusaha obat-obatan angkat suara, berdalih pengesampingan paten hanya akan menghambat upaya pengembangan vaksin Covid di masa depan dan penyakit-penyakit lain.

Awal bulan ini, perwakilan dari industri obat-obatan Amerika Serikat mengirim surat kepada Presiden Joe Biden untuk menyampaikan keresahan mereka.

“Mengeliminasi proteksi-proteksi itu (perlindungan hak paten) hanya akan memperlemah respon global terhadap pandemi,” tulis mereka, termasuk upaya untuk mengatasi varian virus baru.

Lebih lanjut mereka berdalih, apabila hak paten dikesampingkan maka akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap keselamatan vaksin, serta menciptakan rintangan terhadap pembagian informasi.

“Dan yang paling penting, mengeliminasi proteksi tidak akan mempercepat produksi,” imbuh mereka. 

Sebagaimana diketahui untuk melakukan suatu proses produksi dibutuhkan modal uang. Dalam masalah ini industri farmasi tidak hanya mendulang uang dari penjualan obat atau vaksin, tetapi juga meraup untung banyak dari hak paten yang mereka pegang.

Anne Moore, seorang pakar imunologi vaksin, sepakat dengan kubu pengusaha farmasi.

“Dari waktu ke waktu kita lihat semakin sedikit organisasi dan perusahaan komersial yang menggarap bidang vaksin karena hanya sedikit imbal baliknya,” kata Moore.

Perusahaan-perusahaan obat menegaskan bahwa mereka juga menyumbangkan uangnya dan memberikan obat untuk membantu mengatasi pandemi.

Akan tetapi dalih-dalih pengusaha obat itu dibantah oleh kubu pendukung yang ingin negara miskin diberi kesempatan membuat vaksin sendiri.

Uang rakyat yang diberikan untuk dipakai dalam pengembangan vaksin dan obat Covid-19 sudah membengkak sekitar £90 miliar ($125 miliar), yang berarti masyarakat juga punya andil (saham) di dalamnya. Padahal, setelah obat atau vaksin memperoleh izin produksi dan bisa dipergunakan masyarakat maka uang hasil penjualannya masuk ke industri farmasi. Dan sudah menjadi rahasia umum harga obat dan vaksin bisa dimainkan sendiri oleh pihak pengusaha.

“Jelas sekali ada rencana jangka panjang untuk menaikkan harga vaksin begitu tahap paling genting dari pandemi ini berakhir. Jadi, itulah satu alasan lain mengapa negara-negara berkembang mengatakan kami perlu memperoleh kemampuan untuk memproduksi vaksin untuk kami sendiri,” tegas t’Hoen.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:vaksinWHO
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ups! Tank Tentara Italia Tembak Kandang Ayam
Tulisan selanjutnya Nilai Komersial Tinggi Pangeran Mahkota Johor Incar Manchester United

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?