Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Mengapa Negara Teluk Bersatu Mendukung Rezim Suriah Melawan Turki?

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 7 Oktober 2020 17:25 5:25 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 7 Oktober 2020 17:25
Bagikan
Gambar pemimpin rezim Suriah Bashar al-Assad terlihat di pintu toko daging, selama lockdown untuk mencegah Covid-19, di Damaskus, Suriah 22 April 2020.
Bagikan

Hidayatullah.com — Abu Dhabi membuka kembali kedutaannya di Damaskus pada Desember 2018 dan 2020. Sebuah laporan eksklusif Middle East Eye mengatakan bahwa Putra Mahkota UEA MBZ menawarkan 3 miliar dollar kepada rezim Assad untuk menghentikan genjatan senjata antara Turki dan Rusia di Idlib, benteng oposisi terakhir di Suriah. UEA juga dilaporkan telah melatih para perwira dan teknisi intelejen rezim Suriah sejak Januari, Orient XXI melaporkan pada 23 Juni.

Emirat sedang mengincar prospek yang dapat menguntungkannya dari rekonstruksi pasca perang di Suriah, negara yang dilanda perang dengan elite bisnis minimal. Kebanyakan warga Suriah kaya telah meninggalkan negara itu selama perang, menyebabkan kekosongan bisnis yang besar. Negara seperti Rusia dan UEA sekarang sedang berupaya untuk mengisi ini demi keuntungannya. Perlombaan untuk memperoleh tender besar dalam rekonstruksi Suriah telah mengkhawatirkan AS – sekutu penting UEA.

Pada 18 Juni, utusan AS untuk Suriah, James Jeffrey, memperingatkan UEA agar memperhatikan Undang-Undang Caesar, sebuah UU yang memberi sanksi rezim Suriah setelah terungkapnya bukti foto kejahatan perang rezim terhadap warga sipil.

“UEA mengetahui bahwa kami sangat menentang negara-negara yang mengambil langkah diplomatik ini,” kata Jeffrey pada 17 Juni dalam penguraian singkat khusus.

“Dalam hal kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang di UEA atau seseorang di negara lain yang memenuhi kriteria sanksi atau undang-undang ini, mereka adalah target yang potensial terkena sanksi,” katanya.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Membuat Turki Sibuk dan Teralihkan

Untuk UEA dan Mesir, taruhannya lebih tinggi. Kerja sama dengan Damaskus menguntungkan mereka di front lain: Libya.

Sementara mendukung oposisi moderat di Suriah, Turki juga merupakan sekutu utama Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang diakui PBB, bersama dengan Qatar.

Hubungan Turki dengan Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir sudah tegang pada 2017, ketika Ankara mendukung Qatar melawan sanksi mereka.

Bagi UEA, membuat Turki sibuk dalam perang intensif di Suriah Utara dengan menjaga hubungan baik dengan rezim Suriah, adalah taktik impian untuk mengalihkan Turki dari perhatiannya ke GNA. Panglima perang Libya Khalifa Haftar, yang bertujuan untuk merebut Tripoli, sangat bergantung pada UEA, Mesir, serta Rusia.

Ketiganya, yang terdiri dari rezim Suriah, UEA dan Mesir, telah membentuk komite untuk berkoordinasi di Libya, dan Damaskus telah mengirim petempur untuk bergabung dengan barisan Haftar yang didukung UEA.

Laporan menunjukkan bahwa akhir-akhir ini, Turki secara rahasia mendekati Mesir, mengingat kepentingan bersama yang dimiliki kedua negara di Mediterania Timur, serta Libya. Sementara itu, Kairo malah memilih untuk menggalang negara-negara Arab melawan Turki.

Keheningan terhadap kesepakatan damai UEA-Israel

Sejalan dengan kebijakan UEA di Suriah, Mesir mengirimkan 150 tentara untuk bertempur di antara jajaran rezim Assad pada bulan Juli. Para tentara itu ditemani oleh Garda Revolusi Iran, musuh bebuyutan ‘Israel’ di Suriah, dan sekitarnya.

Sementara Mesir adalah sekutu Israel, kerja samanya dengan Garda Iran untuk mendukung Damaskus menandakan perubahan dalam dinamika di Suriah. Untuk negara-negara Liga Arab yang dipimpin oleh Mesir, tindakan yang meningkatkan kenyamanan hingga ke Damaskus, serta bermitra dengan rezim Assad, adalah cara untuk memerangi pengaruh Turki yang tumbuh di wilayah tersebut.

Kairo dan sekutu Arabnya percaya bahwa agenda kebijakan luar negeri Ankara didorong oleh apa yang mereka sebut ambisi neo-Ottoman, sebuah tuduhan yang bahkan baru-baru ini digunakan Yunani untuk melawan Turki. Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, menyangkalnya, mengatakan bahwa meskipun dia “bangga” dengan nenek moyangnya Ottoman, negara itu “tidak berniat” untuk mendirikan negara seperti itu.

Di sisi lain, Arab Saudi meningkatkan upayanya untuk memotong pengaruh Ankara di wilayah tersebut dengan secara resmi memboikot impor Turki mulai 1 Oktober.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:arab saudibashar al assadnegara Arab TeluksuriahTurkiUEA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gerakan Tarbiyah Imaniyah
Tulisan selanjutnya PBNU: UU Ciptaker Untungkan Kapitalis, Tindas Rakyat Kecil, Harus Di-judicial Review

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?