Hidayatullah.com–Kasus infeksi harian Covid-19 pada hari Jumat di China dilaporkan hampir 5.000, sementara rakyat tampak semakin geram dengan cara-cara pemerintah menanggulangi coronavirus.
Hari Jumat (25/3/2022), otoritas kesehatan melaporkan 4.988 kasus, dengan penambahan tertinggi pada infeksi asimptomatik, yang dicatat terpisah oleh China.
Di Shanghai, pejabat kesehatan di kota berpenduduk sekitar 25 juta orang itu melaporkan 1.609 kasus pada hari Jumat. Lebih dari 1.500 kasus tidak menunjukkan gejala, naik tajam dari 979 pada hari sebelumnya.
Shanghai menolak me-lockdown seluruh kota dan lebih memilih menutup bangunan atau daerah tertentu di mana terdapat infeksi dan melakukan tes massal untuk warganya. Namun, sebagian penduduk mengklaim bahwa mereka telah dikurung jauh lebih lama dari yang diperingatkan, dan lainnya melaporkan masalah dalam memperoleh makanan segar dan pengiriman barang kebutuhan lainnya.
“Lockdown 2+2+2+2+2 hari diperpanjang terus tak berkesudahan setiap dua hari,” keluh seorang warga seperti dilansir The Guardian.
“Kebijakan berubah setiap hari, harga naik setiap hari. Saya harus bangun jam 5 setiap hari untuk mengambil makanan. Masih belum apakah makanan masih bisa dikirim. Beginilah cara pemerintah kita memperlakukan warganya?” imbuhnya geram.
Setelah kematian seorang perawat di Shanghai yang ditolak masuk rumah sakit setelah mengalami serangan asma, banyak orang marah karena cara penanganan Covid-19 China sepertinya justru yang menjadi penyebab kematian dan bukannya virus itu sendiri.
“Saya tidak takut dengan coronavirus, saya takut tidak bisa mendapatkan pengobatan untuk penyakit lain,” kata salah satu orang pengguna Weibo.
“Saya benar-benar tidak tahu mengapa orang yang seharusnya dirawat [di rumah sakit] tidak dapat dirawat? Berapa banyak nyawa yang dibutuhkan untuk mengubah kebijakan ‘satu cocok untuk semua’?” kata yang lain.
Pekan lalu, postingan media sosial menjadi viral karena kerumunan orang di Shenyang memukuli jendela toko dan berteriak frustrasi setelah mendengar pengumuman warga harus menjalani tes Covid-19 lagi.
Pada hari Rabu “Mengapa China tidak mencabut pembatasan Covid-19 seperti negara-negara asing?” adalah topik yang ramai dibicarakan di Weibo, menurut What’s On Weibo.
Perdebatan antara epidemiolog Liang Wannian – pendukung strategi zero-Covid Presiden Xi Jinping – dan direktur sebuah rumah sakit di Beijing bernama Jiang Rongmeng – yang mengatakan Omicron lebih mirip seperti flu biasa – mengundang banyak perhatian masyarakat China.*




