Hidayatullah.com– Stasiun televisi negara Iran menampilkan apa yang mereka sebut sebagai detil penangkapan dua warga Prancis awal bulan ini, mengatakan bahwa mereka adalah mata-mata yang ingin memicu kerusuhan di negara itu.
Kementerian Intelijen Iran mengatakan pada 11 Mei bahwa pihaknya telah menangkap dua orang Eropa karena diduga mengobarkan “ketidakamanan” di Iran, tetapi tidak mengungkapkan kewarganegaraan mereka.
Pada 12 Mei Prancis mengecam dan menuntut “pembebasan segera” dua warga negara Prancis, yang identitasnya belum dikonfirmasi secara resmi pada saat itu.
Pada hari Selasa (17/5/2022), televisi pemerintah Iran menyebut keduanya sebagai Cecile Kohler, 37, dan pasangannya Jacques Paris, 69. Kedua orang itu, menurut mereka, adalah “dua mata-mata yang bermaksud menimbulkan kerusuhan di Iran dengan mengorganisir protes serikat-serikat pekerja”.
Kurun beberapa bulan terakhir, guru-guru di seluruh penjuru Iran menggelar protes menuntut gaji dan kondisi tempat kerja yang lebih baik, menurut media-media plat merah. Puluhan demonstran guru ditangkap.
“Mereka melancong ke Iran sebagai turis … Namun, mereka mengambil bagian dalam protes anti-pemerintah dan bertemu dengan anggota dari kelompok yang disebut Asosiasi Guru,” lapor media pemerintah seperti dilansir Reuters, menunjukkan Kohler dan Paris tampaknya berbicara dalam pertemuan yang konon dihadiri oleh para guru yang melakukan protes.
Tayangan TV menunjukkan ketibaan keduanya di Bandara Internasional Imam Khomeini Airport Teheran pada 28 April dengan penerbangan Turkish Airlines dari Turki, serta penangkapan mereka dalam perjalanan menuju ke bandara pada 7 Mei.
Christophe Lalande, sekretaris federal serikat pendidikan Prancis FNEC FP-FO, mengatakan kepada Reuters pada 12 Mei bahwa dirinya curiga salah satu stafnya dan suaminya hilang saat berlibur di Iran.
Dua warga negara Prancis lainnya, Benjamin Brière dan Fariba Abdelkhah, ditahan di Iran atas tuduhan keamanan nasional yang menurut pengacara mereka bermotif politik.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduh Iran mencoba mengekstraksi konsesi dari negara lain melalui penangkapan semacam itu, alias menjadikan mereka alat tawar-menawar politik.
Iran senantiasa menolak tuduhan itu.
Negara-negara Barat sejak lama menuntut agar Teheran membebaskan warganya, yang mereka katakan sebagai tahanan politik.
Penangkapan kedua warga negara Prancis itu dilakukan sepekan setelah seorang warga negara Swedia juga ditahan di Iran.*