Hidayatullah.com–Jumlah kasus bunuh diri di kalangan militer Amerika tahun 2012 mencapai 15 persen. Angka ini cukup mengejutkan pihak Pentagon.
Departemen Pertahanan AS di Arlington, Virginia dekat Washington D.C yang telah melakukan upaya besar untuk menurunkan tingkat bunuh diri di kalangan militernya mengakui bahwa korban perang tidak lagi sebagai alasan utama kematian tentaranya.
Surat kabar Stars and Stripes yang peduli dengan urusan militer, data terbaru Pentagon menunjukkan bahwa 349 personel aktif melakukan bunuh diri tahun 2012, meningkat 15% dibanding tahun sebelumnya.
Angka ini dinilai lebih tinggi dibanding jumlah personel militer yang tewas dalam pertempuran di Afghanistan, di mana ada 310 orang.
Pemerintah Amerika Serikat telah menempuh berbagai cara untuk mencegah bunuh diri di kalangan militer, sejauh ini belum jelas mengapa program-program pencegahan tidak berhasil.
Salah seorang tentara yang melakukan bunuh diri adalah Brendan Fyfe yang mengalami gangguan stres pascatrauma setelah tiga kali ditempatkan di Iraq.
Cynthia Smith, juru bicara Pentagon mengatakan, kenaikan ini jumlah ini sangat mengkhawatirkan. Laporan dari Departemen Pertahanan mengungkapkan pada tahun 2011 jumlah kasus bunuh diri mencapai 301. Sementara pada tahun 2010 mencapai 295 kasus.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta menjelaskan bunuh diri pada bulan Mei tahun ini sebagai “salah satu masalah yang paling kompleks dan mendesak” untuk dicarikan solusinya.
Di antara penyebab kenaikan adalah ketegangan akibat keterlibatan militer Amerika Serikat selama lebih dari satu dekade di Afghanistan dan Iraq sehingga memicu kecanduan alkohol dan narkoba, masalah kesehatan mental, dan kegagalan rumah tangga.
Statistik terbaru bunuh diri militer AS 2011 menunjukkan, seorang prajurit bunuh diri biasanya merupakan orang kulit putih yang belum menikah di bawah usia 25.*