Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Lebih dari 300 Etnis Amhara Tewas dalam Rangkaian Serangan Pembantaian Bermotif Politik

Ahmad
Terakhir diupdate: 22 Juni 2022 21:12 9:12 pm
Ahmad
Dipublikasikan 22 Juni 2022 21:10
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Lebih dari 300 etnis Amhara tewas dalam rangkaian pembantaian terakhir yang bermotivasi politik dan terorganisir di wilayah Oromia di Ethiopia, kata saksi mata kepada APA, hari Senin, (20/6/2022). Menurut mereka, serangan terbaru terjadi pada hari Sabtu di Distrik Ghimbi di zona Wollega Timur, Tolle Kebele (unit administrasi terkecil), di wilayah Oromo, Ethiopia.

Sebagian besar korban adalah anak-anak dan perempuan – menurut saksi mata yang selamat dari serangan dari Tolle Kebele.   Para penyintas harus bersembunyi di hutan dekat desa tempat serangan itu terjadi, kata Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia (EHRC) dalam sebuah laporan hari Senin.

Ini adalah salah satu serangan paling mematikan dalam ingatan baru-baru ini ketika ketegangan etnis berlanjut di negara terpadat kedua di Afrika.

“Saya telah menghitung 230 mayat. Saya khawatir ini adalah serangan paling mematikan terhadap warga sipil yang pernah kita lihat dalam hidup kita,” Abdul-Seid Tahir, seorang penduduk daerah Gimbi, pada The Associated Press setelah nyaris lolos dari serangan pada hari Sabtu. “Kami mengubur mereka di kuburan massal, dan kami masih mengumpulkan mayat. Unit tentara federal sekarang telah tiba, tetapi kami khawatir serangan itu dapat berlanjut jika mereka pergi.”

Saksi lain, yang hanya memberikan nama depannya, Shambel, mengatakan komunitas Amhara setempat sekarang dengan putus asa berusaha untuk dipindahkan ke tempat lain “sebelum putaran pembunuhan massal lainnya terjadi.” Dia mengatakan etnis Amhara yang menetap di daerah itu sekitar 30 tahun yang lalu dalam program pemukiman kembali sekarang “dibunuh seperti ayam.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Otoritas di wilayah Oromo, diberitahu tentang serangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah tetapi mereka tidak datang untuk menyelamatkan mereka, demikian menurut laporan.  Kedua saksi menyalahkan Tentara Pembebasan Oromo (OLF) atas serangan tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, pemerintah daerah Oromia juga menyalahkan OLA, dengan mengatakan pemberontak menyerang “setelah tidak mampu melawan operasi yang diluncurkan oleh pasukan keamanan (federal).”  Namun juru bicara OLA, Odaa Tarbii, membantah tuduhan tersebut.

“Serangan yang Anda maksudkan dilakukan oleh militer rezim dan milisi lokal saat mereka mundur dari kamp mereka di Gimbi setelah serangan kami baru-baru ini,” katanya dalam sebuah pesan kepada AP. “Mereka melarikan diri ke daerah bernama Tole, di mana mereka menyerang penduduk setempat dan menghancurkan properti mereka sebagai pembalasan atas dukungan yang mereka rasakan untuk OLA. Pejuang kami bahkan belum mencapai daerah itu ketika serangan terjadi,” tambahnya.

Kelompok bersenjata Front Pembebasan Oromo (OLF) – yang oleh pemerintah Ethiopia disebut Shane (mereka menyebut dirinya Tentara Pembebasan Oromo) – telah beroperasi di wilayah tersebut segera setelah Perdana Menteri (PM) Abiy Ahmed mengambil alih kekuasaan sebagai Perdana Menteri pada April 2018.

Serangan ini dikatakan sebagai salah satu serangan paling mematikan dalam ingatan baru-baru ini ketika ketegangan etnis berlanjut di negara terpadat kedua di Afrika.

Etiopia mengalami ketegangan etnis yang meluas di beberapa wilayah, sebagian besar karena keluhan sejarah dan ketegangan politik. Orang-orang Amhara, kelompok etnis terbesar kedua di antara lebih dari 110 juta penduduk Ethiopia, telah sering menjadi sasaran di daerah-daerah seperti Oromia.

Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia yang ditunjuk pemerintah pada hari Ahad meminta pemerintah federal menemukan “solusi abadi” terkait pembunuhan warga sipil dan melindungi mereka dari serangan semacam itu.

Amhara adalah salah satu dari dua kelompok etnis terbesar di Etiopia; yang lainnya adalah Oromo. Bersama-sama kelompok tersebut berjumlah sekitar 60% dari populasi Ethiopia.

Ribuan etsni Amhara telah mengali tindakan buruk, mereka diusir, dibunuh dan disiksa. Kasus pengusiran baru-baru ini meningkat, dimulai pada 2012 ketika ribuan Amhara diusir dari Wilayah Selatan.

Perlakuan buruk terhadap Amhara telah menarik perhatian beberapa organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty International yang telah menyebut pola serangan dan pemindahan bermotif etnis. *

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ethiopiaetnis Amharapembantaian etnis Amhara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Korban Gempa Afghanistan Capai 1000 Orang, Jumlah Mungkin Bertambah
Tulisan selanjutnya Putra Mahkota Saudi Presiden Turki Membahas Normalisasi Hubungan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?