Hidayatullah.com– Mercedes-Benz menjadi perusahaan Barat terakhir yang menarik diri keluar dari Rusia, menyusul invasi ke Ukraina pada bulan Februari.
Perusahaan otomotif asal Jerman itu menghentikan produksi di dan tidak lagi mengekspor mobilnya ke Rusia pada awal Maret.
Namun sekarang, dikatakan mereka akan menarik diri dari pasar Rusia dan menjual sahamnya di anak perusahaannya kepada investor lokal.
Perusahaan otomotif asal Jepang Nissan meninggalkan Rusia awal bulan ini, menyusul sejawat Toyota dan Renault.
Nissan mengalami kerugian $700 juta (£600 juta) ketika menyerahkan bisnisnya kepada badan usaha milik negara Rusia dengan biaya nominal, konon katanya kurang dari £1.
Namun, CFO Harald Wilhelm mengatakan langkah mundur perusahaannya dari Rusia tidak akan menimbulkan dampak serius baru bagi Mercedes, lansir BBC Rabu (26/10/2022).
Perusahaan mobil lain termasuk Jaguar Land Rover, General Motors, Aston Martin dan Rolls-Royce, semua menghentikan pengiriman ke Rusia pada bulan-bulan awal perang.
Keputusan Mercedes untuk hengkang dari Rusia lebih lambat daripada perusahaan-perusahaan besar lain.
James Baggott, pemimpin redaksi situs berita industri Car Dealer Magazine, mengatakan pada masa sebelum invasi Rusia merupakan pasar menguntungkan bagi produsen mobil mewah seperti Mercedes, yang produknya G Wagen off-roader dan S Class sangat populer di kalangan elit negeri beruang merah itu.
“Mungkin Mercedes mengharapkan perang akan cepat usai, dan sekarang tampaknya hal itu tidak mungkin. Perusahaan akhirnya mengambil keputusan yang telah lama tertunda untuk keluar dari negara itu untuk selamanya.”
Association of European Businesses (AEB) mengatakan 9.558 kendaraan Mercedes dijual di Rusia dari Januari hingga September, turun 72,8% dari tahun sebelumnya.
Natalia Koroleva, CEO Mercedes-Benz di Russia, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa prioritas utama perusahaan adalah memenuhi kewajiban kepada klien Rusia dan tidak melakukan atau meminimalisir pemutusan hubungan kerja di Rusia.*