Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kisah Dai Muslim Uighur yang Dipenjara karena Pergi Haji, Meninggal di Penjara Xinjiang

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 30 Desember 2022 00:12 12:12 am
Nashirul Haq
Dipublikasikan 30 Desember 2022 05:05
Bagikan
dai uighur
Bagikan

Hidayatullah.com — Seorang imam yang juga dai Muslim Uighur yang dipenjara lima tahun karena berangkat haji dikabarkan meninggal dalam penjara karena kanker hati pada Februari. Kabar kematian ini diungkapkan seorang polisi yang bekerja di distrik tempat imam itu tinggal kepada Radio Free Asia (RFA) pada Rabu (28/12/2022).

Omar Huseyin, 55, adalah dai dan imam, atau pengkhotbah, di Masjid Qarayulghun di Korla, yang dikenal sebagai Ku’erle dalam bahasa China dan kota terbesar kedua di Uighur Xinjiang.

Pihak berwenang China menangkapnya pada September 2017 di tengah tindakan keras yang meluas terhadap ulama dan tokoh Islam Uighur lainnya, karena melakukan perjalanan ke kota suci Makkah pada tahun 2015.

Pihak berwenang juga menahan tiga saudara laki-laki Huseyin pada tahun 2017, salah satunya menjalani hukuman 12 tahun karena berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dan meninggal di penjara.

Kondisi dai tersebut sehat sebelum pihak berwenang membawanya pergi untuk “pendidikan ulang” di salah satu dari ratusan fasilitas di seluruh Xinjiang di mana pihak berwenang menahan sekitar 1,8 juta warga Uighur dan Muslim lainnya yang konon untuk mencegah ekstremisme agama dan terorisme.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Mahmut Moydun, seorang narapidana Uighur yang melarikan diri dari penjara lain di Korla dan bersembunyi, mengatakan kepada RFA bahwa kondisi di pusat penahanan semakin memburuk karena lebih banyak narapidana, termasuk imam, yang meninggal dalam dua tahun terakhir.

Seorang warga Korla, yang menolak disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan kepada RFA bahwa kesehatan narapidana yang ditahan di penjara semakin buruk karena kualitas makanan yang rendah, intensitas kerja, sesi belajar politik yang panjang, dan interogasi tiada henti.

Huseyin ditahan untuk “pendidikan ulang” pada 2017 di saat pihak berwenang mengubah kamp penahanan di Korla menjadi penjara, ujarnya.

RFA menghubungi kantor polisi Qarayulghun di Korla untuk mendapatkan daftar narapidana yang meninggal pada tahun 2021 dan 2022, tetapi komisaris politik menolak memberikannya. Saat dimintai keterangan tentang Huseyin, ia mengatakan bisa memberikan informasi itu dari kantor polisi di distrik tempat tinggal sang imam.

“Saya tidak dapat mengirimkan informasi itu kepada Anda,” katanya. “Tidak ada hal seperti itu.”

Seorang polisi distrik kemudian mengkonfirmasi bahwa Huseyin sedang menjalani hukuman di penjara distrik dan dia meninggal pada 2 Februari.

“Dia sehat dan tidak sakit sama sekali sebelumnya,” kata petugas itu. “Kami mengetahui bahwa dia meninggal karena kanker hati stadium akhir di rumah sakit [penjara]. Dia meninggal saat dirawat tanpa dibebaskan.”

“Pada saat itu, Partai [Komunis China] dan pemerintah mengorganisir delegasi untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah, dan dia pergi ke sana sebagai anggota delegasi,” kata petugas polisi tersebut, mengacu pada waktu sebelum penumpasan tahun 2017 ketika pihak berwenang mendorong warga Uyghur untuk mengajukan paspor dan bepergian ke luar negeri.

Setelah pihak berwenang menangkap Huseyin karena melakukan ibadah haji ke Makkah, dia diadili dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara, katanya.

Pihak berwenang pergi ke rumah Huseyin pada tahun 2020 dan memberikan dokumen persidangan rahasia tentang dia kepada keluarganya, kata polisi itu, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Setelah dia meninggal Februari ini, pihak berwenang mengembalikan jasadnya ke keluarganya.

Empat saudara

Omar Huseyin adalah salah satu dari empat bersaudara, berusia 50 hingga 62 tahun, dari keluarga yang sama yang diseret oleh pihak berwenang untuk “pendidikan ulang” karena dianggap sebagai ancaman keamanan karena berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan, menurut seorang emigran Uighur dari Korla yang sekarang tinggal di Turki.

Selain sang dai Uighur, kakak laki-lakinya, Samat Huseyin, juga meninggal di penjara pada 2021, kata emigran itu.

Samat Huseyin, seorang petani yang tinggal di desa Baghjigde Qarayulghun di kota Qarayulghun, ditangkap bersama tiga saudara laki-lakinya di tengah penahanan massal warga Uighur yang dimulai pada 2017, kata emigran yang menolak disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Dua saudara lain, Rahman dan Ablet, “lulus” setelah menghabiskan dua tahun di pusat pendidikan ulang karena sikap mereka “membaik”, sementara dua lainnya dianggap “bermasalah” dan dituduh mengganggu ketertiban umum dengan berkumpul bersama orang lain, katanya kepada RFA.

Otoritas China menghukum Omar lima tahun penjara dan Samat 12 tahun penjara, tambahnya.

Seorang anggota staf keamanan dari komite lingkungan di Qarayulghun membenarkan bahwa empat pria dari keluarga beranggotakan sembilan orang telah ditahan untuk “pendidikan ulang”, dengan dua dari mereka kemudian meninggal saat dipenjara.

“Satu meninggal pada awal 2021, dan yang lainnya mungkin meninggal pada Februari 2022,” katanya seraya menambahkan bahwa Samat meninggal karena kanker perut.

Staf itu juga mengatakan Samat, 60, sehat sebelum dibawa pergi untuk “pendidikan ulang,” dan bahwa dia mengidap penyakit itu saat dipenjara dan meninggal di rumah sakit penjara.

Seorang pegawai di kantor kejaksaan setempat mengonfirmasi bahwa pihak berwenang menangkap Samat pada September 2017 karena “melanggar keamanan publik” dengan berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan bersama orang lain.

“Ada aturan di pusat pendidikan ulang bahwa mereka dapat bertemu dengan kerabat langsung mereka, dan mengatur agar mereka bertemu satu sama lain satu kali,” kata staf tersebut.

Rahman, diyakini berusia sekitar 62 tahun, ditahan selama dua tahun, sementara Ablet, bungsu dari empat bersaudara, ditahan di pusat pendidikan ulang kota Korla, kata orang tersebut.*


Zaman Revolusi Media | Media lemah, da’wah lemah, ummat ikut lemah. Media kuat, da’wah kuat dan ummat ikut kuat
Langkah Nyata | Waqafkan sebagian harta kita untuk media, demi menjernihkan akal dan hati manusia
Yuk Ikut.. Waqaf Dakwah Media
Rekening Waqaf Media Hidayatullah:
BCA 128072.0000 Yayasan Baitul Maal Hidayatullah
BSI (Kode 451) 717.8181.879 Dompet Dakwah Media

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinaimam uighurkamp pendidikan ulangMuslim Uighurpusat pendidikan ulang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kelompok Pejuang Palestina Melakukan Aksi Militer Gabungan di Perbatasan Jalur Gaza
Tulisan selanjutnya Harga Bahan Pangan Naik, Pemerintah Mesir Suruh Warganya Makan Ceker Ayam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?