Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Agar “Toleran” Guru agama Indonesia Dapat Pelatihan di Oxford

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Desember 2014 14:08 2:08 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Desember 2014 14:08
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sebanyak 30 guru agama SD, SMP, dan SMA dari Indonesia dan 10 pegawai Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia mengikuti pelatihan pengajaran agama Islam di Universitas Oxford, Inggris.

Mereka merupakan pilihan dari sekitar 400 guru dari seluruh Indonesia yang mencalonkan diri untuk ikut pelatihan dengan para pembimbing dari Jurusan Pendidikan Universitas Oxford.

“Program ini bukan substansi terkait dengan pendidikan agama, bukan tentang Islam namun bagaimana pelatihan untuk mereka mempunyai ide-ide untuk mengajar yang lebih kreatif, membuat siswa di kelas tertarik dengan yang sedang dajarkan,” kata Revita Wahyudi, pengelola pelatihan dari Oxford Policy Management Ltd yang bekerja sama dengan Bank Pembangunan Asia, ADB, serta Analytical and Capacity Development Partnership, ACDP.

Selain mengikuti pelatihan di ruang kelas, para peserta juga berkunjung ke beberapa sekolah di kawasan Oxford dan menyaksikan sendiri proses belajar mengajar di sana.

Dan menyaksikan langsung pengajaran agama di ruang kelas merupakan salah satu hal yang amat bermanfaat, menurut Bagus Mustakim, salah seorang peserta yang sehari-harinya mengajar di SMPN 2 Karangjati, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Yang paling menarik ketika kami masuk ke kelas-kelas di beberapa sekolah. Banyak hal baru dengan ragam pendekatan yang luar biasa menarik bagi kami,” tutur Bagus dikutip BBC.

Para guru rencananya akan menyusun manual untuk dijadikan percontohan di beberapa sekolah di Indonesia. [baca: 30 Guru Agama Dapat “Pendidikan Multikulturalisme” di Oxford ]

“Misalnya ada beberapa tugas yang dikerjakan siswa itu tidak dikumpulkan dan tidak didokumentasi, ya tidak dipakai lagi. Tapi di balik itu ada penilaian yang berbeda, semua aspek dinilai.”

Bagus menambahkan upaya mengaktifkan siswa merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan.

“Guru hanya beberapa bicara dan memberikan arahan saja kemudian murid aktif membahasnya dalam kelompok-kelompok,” tambahnya.

Moving class

Sedangkan peserta lainnya, Nur Huda Kurniawan, melihat bahwa para murid tidak perlu harus membawa buku yang berat.
“Anak-anak di sini bawanya simpel saja, tugas beberapa halaman saja. Bukan semua buku untuk pelajaran pada hari itu. Jadi di sini mereka enteng, berangkat dan pulang sekolah,” jelas Nur Huda.

Bagi Nur Huda itu tampaknya merupakan hal kecil, tapi membuat para murid jadi lebih ringan untuk berangkat sekolah sedangkan buku-buku dan bahan-bahan pembelajaran lain disediakan di kelas maupun di perpustakaan.

“Di sini moving class atau guru tetap berada di kelasnya tapi muridnya bergerak dari satu kelas ke kelas lain jika mata pelajaran berganti. Dengan demikian semua bahan-bahan belajar bisa disediakan di dalam kelas.”

 

GuruAgama_oxford lagi_BBC2a
Guru agama ini diajarkan metodologi, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, demokrasi, multikultural dan deradikalisasi

Baik Bagus dan Nur Huda mengaku bersemangat untuk mencoba menerapkan yang mereka pelajari dari pelatihan selama sepekan di Oxford dan memang itulah salah satu tujuan dari program ini.

“Sebenarnya tidak semuanya merupakan guru-guru biasa namun juga ada instruktur nasional yang memberikan pelatihan ke guru-guru lain,” tambah Revita.

Oleh karena itu sepulang dari Oxford para peserta diharapkan menggelar workshop atau loka karya untuk menyusun satu manual pelatihan bagi guru untuk pembelajaran dan materi pembelajaran.

“Setelah itu kita akan coba pilotkan di sekolah di beberapa daerah untuk melihat apakah metode baru yang dipelajari bisa diaplikasikan di Indonesia atau tidak.”

Dengan demikian diharapkan program ini bisa memperkaya pendidikan agama Islam di Indonesia agar bisa menanamkan sifat saling menghormati dan toleran di kalangan masyarakat.

Sebelum ini, Amin Haedari, Direktur PAI Kemenag RI, pernah menyampaikan pada pers, program ini merupakan kerjasama Direktorat Pendidikan Agama Islam (DitPAI) Kemenag RI dengan The Educational Sector of Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP).

Dalam program “Overseas Short-term Training In Teaching Methodology For Islamic Religion Teachers” ini, para guru agama diajarkan metodologi, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, demokrasi, multikultural dan deradikalisasi.*

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:inggrisPerbedaan agamatoleransi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengelola Bar di Myanmar Diperkarakan karena Buddha Pakai Headphone
Tulisan selanjutnya Benarkah Kristen Masuk Indonesia pada Abad VII? [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?