Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

‘Andai Seekor Burung, Aku akan Terbang ke Burma’ [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Mei 2017 08:51 8:51 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Mei 2017 08:51
Bagikan
Etnis Rohingya dikamp pengungsi di daerah Narwal
Bagikan

Hidayatullah.com–Adalah Zahid Hussain, 48 tahun, yang menjelaskan mengapa dia dan 7.000 anggota etnis Rohingya memilih untuk lari dari penganiayaan yang terjadi di kampung halaman mereka untuk tinggal di Jammu dan Kashmir. Kebanyakan dari mereka tinggal di distrik Jammu dan Samba.

“Penduduk Jammu telah menerima kami,” kata Hussain, yang tiba di Jammu pada 2009 dan membuka sebuah dhaba sederhana di kamp pengungsi di daerah Narwal. Tidak lama setelah kebakaran yang menimpa 81 rumah penampungan Rohingya di kamp Narwal pada November, warga setempat segera mengirimkan bantuan berupa uang dan material.

Tetapi saat ini, komunitas Rohingya di Jammu berada dalam kekhawatiran. Sebuah kebakaran yang terjadi di kamp pengungsi Bhagwati Nagar pada April menghasilkan sikap bertetangga yang serupa. Meskipun otoritas berwenang meyakini bahwa kebakaran tersebut dikarenakan hubungan arus pendek, beberapa orang di komunitas tersebut bersikeras bahwa itu merupakan sebuah tindakan sabotase.

“Haalat nazuk hai,” Hussain terlihat muram. Keadaan sedang sulit. “Pada dua bulan terakhir ini, orang-orang mulai memandang kami dengan curiga. Kami tetap terjaga di malam hari, melakukan penjagaan.”

Baca:  14 Ribu Pengungsi Rohingya Berlindung di India

Digambarkan sebagai komunitas paling teraniaya di dunia, rakyat Rohingya merupakan sebuah kelompok etnis minoritas yang paling banyak ditemukan di wilayah barat negara bagian Rakhine, Myanmar. Rakyat Rohingya telah menjadi korban penindasan selama beberapa dekade di Myanmar, yang menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh – sebuah tuduhan yang dengan tegas dibantah oleh komunitas itu. Karena penindasan itu, ribuan rakyat Rohingya telah lari dari Myanmar menuju Bangladesh, serta beberapa yang menuju India.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Menurut Komisi Tinggi Pengungsi PBB, terdapat 14.000 pengungsi dan pencari suaka Rohingya di India saat ini, yang setengah jumlah tersebut berada di Jammu dan Kashmir.

‘Tinggalkan Jammu’

Pada bulan-bulan ini, kehadiran mereka mendapat pertentangan. Februari lalu, sebuah kelompok yang menamakan diri mereka Partai Nasional Panther Jammu dan Kashmir memasang papan reklame di kota Jammu yang meminta penduduk untuk “bangun” dan “menyelamatkan sejarah, budaya, dan identitas Dogras”. Papan reklame itu secara langsung menunjuk pengungsi Rohingya dan Bangladesh agar “pergi dari Jammu”.

Sejak itu kampanye pengusiran rakyat Rohingya dari Jammu semakin intensif. Pada tanggal 7 April dalam sebuah konferensi pers, presiden Dewan Dagang dan Industri Jammu, Rakesh Gupta, menyatakan bahwa para pengungsi merupakan “para penjahat”. Dia mengancam akan melakukan sebuah gerakan “kenali dan bunuh” jika pemerintah tidak mendeportasi para pengungsi.

Baca:  Nasionalis dan Buddha Burma Tolak ‘Rohingya’di Kedutaan AS di Myanmar

Pernyataan Gupta itu mendapat kecaman dari berbagai pihak. Masyarakat Hindu menyalahkan Muslim karena memperbolehkan orang asing untuk tinggal di Jammu, sementara masyarakat Muslim melihat sikap permusuhan itu sebagai bukti tumbuhnya sentimen anti-Muslim.

Situasinya semakin mengarah pada politik setelah para separatis, yang kebanyakan berbasis di Kashmir, menyatakan dukungan mereka pada komunitas Rohingya.

Kehidupan pengungsi

Ketika junta Burma merubah nama Burma menjadi Myanmar pada tahun 1989, negara bagian Arakan juga dirubah menjadi Rakhine. Rakyat Rohingya meyakini bahwa perubahan nama ini merupakan sebuah bagian dari serangkaian upaya untuk mencabut dan menghapuskan klaim mereka terhadap tanah kelahiran mereka.

“Kami telah berhijrah (migrasi) selama beberapa generasi,” kata Kisayatullah Arkan, seorang ulama yang tinggal di kamp pengungsi Bhatindi. “Ini bukanlah pertama kalinya. Ayah dan kakekku sebelumnya juga bermigrasi ke (Bangladesh) dan kembali lagi ke Burma. Sekarang giliranku.”

Tiba di India melalui perbatasan Bangladesh, para pengungsi menyebar ke beberapa bagian negara itu, melakukan pekerjaan kasar agar dapat bertahan hidup.

Di sebuah toko teh di kamp Narwal, para pengungsi Rohingya berkumpul untuk mengenang kehidupan mereka di Rakhine. “Kami memiliki tanah di mana kami dapat menanam beras dan sayur-sayuran yang dapat menopang kehidupan kami selama serahun,” kata Syed Hussain, 52 tahun, yang dicalonkan menjadi zimmedar (orang yang bertanggung jawab) pada kamp oleh komunitas pengungsi. “Kami hanya harus bekerja beberapa bulan dalam setahun.”*/Nashirul Haq AR [Bersambung]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:burmaetnis RohingyaIndiaJammukamp pengungsi NarwalKashmirmyanmarPengungsi RohingyaRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menuju Perfect Equality
Tulisan selanjutnya Organisasi Bubar, Ideologi Berkobar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?