Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Saya Muslim Uighur yang Melarikan Diri dari Aksi Brutal China

Ahmad
Terakhir diupdate: 16 September 2018 20:15 8:15 pm
Ahmad
Dipublikasikan 16 September 2018 20:15
Bagikan
Muslim Uighur di Kamp Kosentrasi
Bagikan

Hidayatullah.com–Menjadi seorang ibu atau ayah sering digambarkan sebagai salah satu perasaan terbaik di dunia. Ini seperti memulai babak baru – sukacita dengan membawa pulang si kecil, membesarkan mereka dan mengawasi mendidik hingga mencapai tujuan mereka.

Bayangkan jika suatu hari Anda bersama anak-anak Anda dijebloskan ke kamp kosentrasi, tanpa tahu mengapa Anda berada di sana, atau apakah Anda akan dapat melihat anak-anak Anda lagi?

Bayangkan bahwa penjelasan yang diberikan kepada Anda dari otoritas adalah bahwa kejahatan Anda karena mempraktekkan agama yang Anda ikuti, dan karena ini Anda akan menjadi tersiksa. Bagaimana perasaan Anda? Takut, kan? Yah, itulah tepatnya yang dirasakan jutaan orang etnis Muslim Uighur saat ini di China.

Jika Anda masih belum mendengar tangisan kami, maka di sini saya berteriak lebih keras dari sebelumnya, untuk memberitahu Anda bahwa orang-orang Uighur adalah komunitas Muslim keturunan Turki yang cantik. Kami memiliki bahasa, budaya, dan musik kami sendiri. Kami bahkan mendesain pola pakaian tradisional kami sendiri. Tetapi kami mempraktekkan Islam, dan itulah mengapa China menganiaya kami.

Saat ini, lebih dari 1 juta Muslim Uighur terkunci di kamp-kamp “pendidikan ulang” (re-education) yang mengerikan di mana mereka dipaksa untuk melupakan identitas mereka dan diharuskan mencela Islam. Kisah baru-baru ini dikutip The Independent, sebuah laporan Human Rights Watch (HRW) tentang meningkatnya pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Uighur, mengungkapkan tingkat penganiayaan yang mengerikan terhadap komunitas Uighur di pihak pemerintah Komunis China.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Baca: PBB Khawatirkan Penahanan Satu Juta Muslim Uighur di China .

Hari ini, ribuan anak-anak dengan orang tua yang dikurung di kamp-kamp kosentrasi atau juga disebut ‘Kamp Cuci Otak’ dikirim ke panti asuhan. Jalan-jalan di wilayah Xinjiang kosong, dengan rumah-rumah yang terkunci dan toko-toko ditutup karena pemiliknya ditangkap. Saya melarikan diri dari China dengan keluarga saya sendiri, situasinya semakin memburuk.

Saya seorang wanita muda yang sekarang hidup “aman” di London bersama orang tua saya, tetapi gagasan kehilangan mereka masih membuat saya terjaga di malam hari.

Sebagai seorang anak berusia 11 tahun yang tinggal di China, saya selalu merasa takut dan tahu bahwa jika ada yang salah, bahkan orang tua sayapun tidak akan dapat menyelamatkan saya.

Kami meninggalkan Tiongkok setelah salah satu tetangga kami, Patime, melakukan aborsi saat dia hamil enam bulan. Dia tidak selamat dari operasi itu, dan kekejaman pihak berwenang adalah seruan membangun bagi keluarga saya untuk meninggalkan China.

Pemerintah mengumumkan rencana untuk mengakhiri “Kebijakan Satu Anak”, tetapi keluarga Uighur selalu diawasi, dan aborsi paksa adalah hal yang umum. Perasaan takut itu masih hidup dalam diriku, dan membuatku enggan membagikan identitasku dengan orang lain.

Lolos ke luar negeri ke Uni Emirat Arab (UEA) tidak banyak berubah. Kedutaan China mengawasi Uighur yang tinggal di negara-negara asing, dan terus menekan pemerintah setempat untuk mendeportasi Uighur kembali.

Mereka bahkan memeras siswa dengan menahan sandera keluarga mereka di China. Kami tidak dapat mengatakan bahwa negara tertentu aman bagi kami. Bahkan negara-negara seperti Swedia telah menjunjung perintah deportasi. Uighur harus mengawasi hubungan negara mereka saat ini dengan China; jika pengaruh meningkat, begitu juga bahaya. Ini seperti menonton berita untuk menentukan apakah Anda akan aman setiap hari.

Baca: Komunis China Memotong Rok Wanita Uighur di Jalanan

Setelah aneksasi Turkestan Timur oleh Republik Rakyat China pada tahun 1949, penindasan terhadap Muslim Uighur telah dimulai secara perlahan.

Pertama, anak-anak berhenti belajar tentang Al-Quran, kemudian dari pergi ke masjid. Itu diikuti dengan larangan puasa Ramadhan, larangan memelihara jenggot, pemberian nama Islam untuk bayi Anda, dll. Kemudian bahasa kami diserang – kami tidak mendapatkan pekerjaan jika kami tidak paham bahasa Mandarin. Paspor kami dikumpulkan, kami diberitahu untuk memata-matai satu sama lain, tahanan Uighur yang tidak bersalah dibunuh untuk sebagaian diambil organnya, dan daftar itu terus meningkat, membuat kawasan itu terasa seperti penjara terbuka.

Saat ini, ada kamera pengenalan wajah di mana-mana, kode QR telah dipasang di luar rumah serta di dalam peralatan dapur milik Muslim Uighur. Perempuan Muslim dipaksa menikahi suku Han China. Setiap saat, Uighur dapat dihentikan oleh polisi dan dikirim ke kamp – tampaknya orang-orang tidak diizinkan untuk berpikir tanpa izin Komunis China.

Terlepas dari kerasnya kekejaman yang ditularkan pada Muslim Uighur oleh pemerintah China, negara ini masih duduk dengan bangga sebagai anggota tetap PBB, dan dengan sederhana menyangkal keberadaan hal-hal ini.

Terlepas dari semua bukti, China bahkan tidak mengizinkan PBB untuk melakukan investigasi secara bebas di wilayah tersebut. Bahkan para wartawan yang mencoba untuk menutupi situasi telah ditahan atau diekor oleh polisi. Dunia harus menghentikan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan ini, sehingga kita tidak mengikuti jejak China, di mana mempraktikkan agama yang kita yakini dianggap sebuah kejahatan.*/Gulnaz Uighur, dimuat The Independent, Kamis (13/09/2018)

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinakamp curi otakkamp kosentrasikomunisMuslim UighurTurkestan Timuruighurxinjiang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bamsoet: PBB seakan Tidak Berdaya Hadapi AS soal Palestina
Tulisan selanjutnya HRS: Penumpasan PKI Merupakan Politik Identitas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan

Berita
29 Agustus 2026 09:20
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?