Hidayatullah.com–Pemimpin Jabhah Fath Syam Abu Muhammad al-Julani mengatakan pada hari Sabtu bahwa perjanjian Amerika Rusia di Suriah bertujuan untuk melindungi daerah yang dipegang rezim Bashar al Assad.
Menurut Jabhah Fath Syam, dengan perjanjan Rusia dan Amerika Serikat (AS) tentang Suriah akan menargetkan kelompok mujahidin seperti Ahrar Syam dan Jayshul-Islam di wilayah itu, demikian kutip Aljazeera.
Dalam wawancara dengan Aljazeera baru-baru ini, al-Julani mengutuk perjanjian Rusia-Amerika baru-baru ini, menuduh Washington, Moskow, dan Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, berkolusi dengan rezim Assad.
Al-Julani juga dianggap bahwa rencana tujuan mengalami rezim mengepung Aleppo, kemudian kesepakatan Amerika Rusia akan mengikuti, dan de Mistura akan mengumumkan mengirimkan bantuan kemanusiaan akhirnya.
Pemimpin Jabhah Fath Syam menjelaskan, perjanjian antara Moskow dan Washington adalah murni sebagai kesepakatan militer, menekankan bahwa hal itu mengarah penyerahan kelompok oposisi bersenjata Suriah agar mereka meletakkan senjatanya.
Al-Julani menganggap Amerika bersikeras menargetkan Jabhah Fath Syam meskipun kelompoknya sudah berakhir hubungan dengan al-Qaeda.
Terkait serangan yang menargetkan komandan senior Jabhah Fath Al-Syam, Abu Umar Saraqib atau Abu Hajir Al-Homsy yang gugur oleh serangan udara saat rapat di pedesaan Aleppo pada Jumat (09/09/2016) oleh Rezim al Assad atau pimpinan AS, al-Julani mengatalan, bahwa serangan udara itu sebenarnya bukan sekedar menargetkan Abu Umar Saraqib secara pribadi, tetapi berusaha memblokade Kota Aleppo.*