Hidayatullah.com–Kompleks Pesantren Nurul Khoir, Wonorejo Rungkut Surabaya Senin (23/8) mendadak meriah. Sembilan grup nasyid dari berbagai daerah di Surabaya saling unjuk kebolehan dalam Festival Ramadhan yang diadakan Harian Jawa Pos.
Perlombaan ini terbilang menarik. Pasalnya, setiap peserta berusaha tampil seoptimal mungkin dengan lagu yang mereka bawa. Kostum mereka juga unik dan bervariasi. Ada yang memakai baju koko lengkap dengan peci dan sorban, serta ada juga hanya memakai batik dan kemeja.
Di antara peserta juga ada yang masih pelajar. Seperti Granatte, tim nasyid ini terdiri dari pelajar SMAN 2 Sidoarjo.
Semua lagu yang dibawakan tim nasyid bernuansa religi. Ada yang membawakan lagu-lagu lokal, namun ada juga yang membawakan lagu berbahasa Inggris, Give Thanks to Allah, Sami Yusuf, seperti yang dinyanyikan La Tahzan Voice.
Sedang grup Sahid Voice membawakan lagu Malam Impian, lagu yang berisi tentang Lailatul Qadr, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Acara tersebut menyedot antusiasme para santri, warga, dan sejumlah pejabat kecamatan setempat. Terlihat tiga terop yang disediakan panitia penuh oleh penonton. Hampir selama acara ramai oleh tepuk tangan dan tawa para peserta.
Dari ajang festival tersebut akhirnya menghasilkan tiga pemenang. Juara satu, As-Syifa, juara kedua La Tahzan, sedang juara ketiga disabet Granatte. Abi Zayid Arif salah satu dewan juri mengatakan, nilai yang didapat masing-masing peserta beda tipis.
Tapi, ujar praktisi seni ini, harus ada yang terbaik yang keluar jadi juara. Zayid mengatakan, kebanyakan yang jadi kelemahan ada di harmoni dan vokal. Ketiga juara itu nanti akan berlomba di grand final dengan para juara dari daerah lain untuk memperebutkan hadian jutaan rupiah.
Bagi para para peserta ajang festival tersebut tidak sekedar cari juara, tapi pengalaman dan menyemarakkan bulan suci Ramadhan. Seperti dikatakan Musron, koordinator Sahid Voice, ajang festival yang diikutinya itu tidak lain untuk mencari pengalaman dan menyemarakkan bulan puasa.
Perlu ditingkatkan
Secara terpisah, kepada hidayatullah.com Abi Zayid Arif mengatakan, tren perkembangan nasyid cukup menggembirakan. Terbukti dengan banyak munculnya grup nasyid. Tapi, ujarnya, perlu peningkatkan kualitas. “Saya yakin, jika lebih ditingkatkan dan dilatih oleh instruktur handal, hasilnya bakal lebih hebat,” ujarnya.
Zayid menambahkan, nasyid telah booming di masyarakat, setidaknya bisa jadi altenatif seni bagi masyarakat. Sayangnya, masyarakat belum terlalu familiar dengan nasyid. [ans/hidayatullah.com]