Hidayatullah.com–Dalam satu dekade terakhir, industri pangan halal dunia berkembang luar biasa pesat. Diperkirakan nilai pasar kebutuhan pangan umat muslim pada tahun 2009 lalu mencapai US$ 634,6 milyar, atau 16% dari total industri pangan dunia. Pada tahun 2010, diperkirakan angka ini tumbuh menjadi US$ 661,6 milyar.
Untuk memenuhi kebutuhan 1,8 milyar umat Islam dunia ini, perusahaan multinasional seperti Tesco, McDonald’s dan Nestle bahkan telah melebarkan sayapnya dengan menawarkan produk halal, dan diperkirakan menguasai sekitar 90% pangsa pasar pangan halal dunia.
Sebagian besar produsen dan pemasok produk pangan halal dunia adalah Negara-negara non-muslim.
“Bahkan sebagian besar negara yang memproduksi daging dan unggas berlabel halal dan mengekspornya ke negara-negara berpenduduk muslim tidak memiliki standar halal,” ujar Darhim D. Hashim, CEO International Halal Integrity Alliance.
Sementara itu Global Halal Congress menyebutkan, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Swiss, Brazil, Kanada, Australia, New Zealand dan Prancis merupakan suplier produk halal terbesar dunia. Swiss merupakan produsen pangan olahan halal terbesar di dunia dengan nilai penjualan US$ 3,5 milyar per tahun. Perusahaan-perusahaan Swiss yang memproduksi pangan halal menjamin kualitas produknya dengan melakukan pengujian secara reguler dan disertifikasi oleh para pakar Islam.
Di belahan dunia timur, Thailand merupakan eksportir produk pangan bersertifikat halal terbesar, diikuti oleh Malaysia, Pilipina, Indonesia, Singapura dan India.
Pada tahun 2009, negara bagian Parana, Brazil mengekspor hampir 1 juta metrik ton produk ayam beku halal senilai US$ 1 milyar ke 100 negara dan 300.000 metrik ton produk daging sapi halal ke Saudi Arabia, negara-negara Teluk, Mesir dan Iran.
Perusahaan perunggasan raksasa di Brazil seperti BR Food (d/h Sadia), Aurora, merupakan pemasok penting pasar Timur Tengah. Pada umumnya perusahaan-perusahaan eksportir tersebut memiliki pekerja khusus yang berasal dari Federasi Muslim Brazil untuk memotong ayam secara halal. Timur Tengah menyerap 30% lebih dari seluruh ekspor ayam Brazil.
Prancis mengekspor 750.000 metrik ton ayam beku halal ke Arab Saudi, Kuwait, Uni Arab Emirates dan Yaman setiap tahunnya. Amerika Serikat merupakan eksportir produk daging sapi terbesar ketiga di dunia dan lebih dari 80% produk sapi beku yang diekspor adalah halal.
New Zealand merupakan eksportir daging sapi terbesar keempat di dunia, dan 40% di antaranya merupakan produk halal.
Pasar Halal
Di Eropa, pasar produk pangan halal diperkirakan senilai US$ 67 milyar dan Prancis mengambil porsi terbesar, yakni sekitar US$ 17 milyar. Di benua ini, penjualan daging halal diperkirakan mencapai 3 juta ton per tahun. Di Inggris saja, penjualan daging halal mencapai US$ 600 juta per tahun. Negara-negara Teluk di Timur Tengah mengimpor produk pangan halal senilai US$ 44 milyar. Perdagangan pangan halal India per tahun mencapai US$ 21 milyar. Indonesia membelanjakan lebih dari US$ 70 milyar untuk produk pangannya.
Negara-negara Asia Tengah dan Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan, Turkmenistan, Kyrgystan, Sri Lanka, dan sebagainya memiliki total umat muslim lebih dari 600 juta, merupakan pasar yang sangat besar bagi produk halal. Sebagian besar merupakan negara muslim, namun tidak memiliki standar sertifikasi halal.
Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) merupakan pemasok utama dan sekaligus pengimpor produk pangan halal. Negara-negara ini bersaing dalam memroduksi pangan halal, juga melakukan perdagangan antarnegara sekawasan. Sebagai contoh, Indonesia merupakan importir terbesar produk halal Malaysia.
Akhir-akhir ini, negara-negara Asia di luar Timur Tengah mulai muncul sebagai pusat standarisasi halal, riset, pengujian, produksi dan perdagangan internasional. Malaysia berupaya menjadi poros halal internasional dan telah menjadi tuan rumah acara tahunan World Halal Forum sejak 2006. Halal Development Corporation dan Centre of Halal Excellence milik raksasa industri pangan Nestle juga berlokasi di Malaysia.
Industri pangan Singapura juga berusaha menjadi poros halal dan telah meluncurkan kampanye iklan besar-besaran di negara-negara Timur Tengah. Thailand juga mencoba untuk diakui sebagai Halal Centre of Excellence dalam bidang science dan pengujian. China dan India memiliki industri halal yang terus berkembang dengan keunggulan kompetitif karena rendahnya biaya tenaga kerja. Banyak perusahaan India berusaha memeroleh sertifikasi halal disamping HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) dan ISO demi meraih lebih banyak konsumen. Brunei Darussalam bekerjasama dengan Australia, berupaya memadukan perannya di dunia Islam dengan reputasi Australia dalam hal produksi pangan yang aman dan berkualitas tinggi.
Timur Tengah dan Afrika Utara memiliki potensi besar sebagai pasar produk halal. Kedua kawasan ini memiliki populasi hampir setengah milyar dan mengimpor 80% dari kebutuhan pangannya. Negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi dan Uni Arab Emirates memiliki pendapatan per kapita tinggi dan tingkat konsumsi yang tinggi pula. Turki merupakan pasar produk halal yang tengah tumbuh, dan sekaligus berpotensi sebagai pemasok produk pangan halal ke negara-negara Uni Eropa. Dengan penduduk muslim lebih dari 70 juta jiwa, Mesir merupakan pasar produk halal terbesar di kawasan Afrika Utara.
Jika melihat daya beli, Uni Eropa merupakan pasar halal yang penting. Disamping Perancis yang merupakan pasar halal terbesar di luar negara-negara muslim, umat non-muslim di Eropa juga banyak yang membeli produk halal dengan persepsi bahwa produk ini lebih aman. Bandar Rotterdam merupakan kunci masuk Uni Eropa, dan bahkan memiliki gudang khusus untuk produk-produk halal. Di Negara-negara Eropa Timur juga terdapat komunitas umat Islam seperti Albania (70%), Bosnia/Herzegovina (60%), Macedonia (30%), Russia (19%) dan Yugoslavia (19%).
Jika melihat fakta dan angka tersebut, seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan peluang sebagai produsen dan ekportir daging atau pangan halal ke banyak negara.
Sayangnya negara kita terbilang ketinggalan di kancah industri halal dunia. Kalau banyak negara non muslim berlomba-lomba memeroleh sertifikat halal demi meraup pasar umat muslim yang besar tersebut, industri makanan dan minuman Indonesia justru menentang usulan sertifikasi halal diwajibkan.
Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan lembaga pemberi sertifikat halal, hanya 20% dari seluruh industri pangan Indonesia bersertifikasi halal. Padahal konon Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Akankah kita berpuas diri sekadar menjadi konsumen produk halal negara-negara tetangga kita? [poultryindonesia/hidayatullah.com]