Hidayatullah.com — Ekonom Dr. Hendri Saparini, menilai Indonesia sangat lemah dan tidak punya bargaining power dalam melakukan hubungan dagang dengan negara manapun. Hal ini disebabkan karena Indonesia tidak adanya strategi yang jelas dan tujuan yang benar benar spesifik.
Hal itu diungkapkan Saparini terkait bergulirnya isu hubungan dagang yang hangat antara Indonesia dan Israel, akhir akhir ini.
Hubungan dagang dengan Israel, menurutnya, harus dipertimbangkan dan mesti dipastikan tujuan dan kerjasama apa yang ingin dilakukan.
“Israel, misalnya, sangat maju dalam bidang industri dan infrastruktur pertanian. Manfaat apa yang ingin dicapai Indonesia dalam hal ini, itu saya tidak paham,” kata Hendri Saparini dalam perbincangan dengan hidayatullah.com.
Ditanya seberapa penting hubungan dagang dengan Israel, Saparini tidak mau berkomentar terlalu jauh. “Saya perlu mempelajari dulu lebih jauh peta ini,” katanya.
Namun dia kembali menegaskan, alih alih mendapat keuntungan dengan melakukan hubungan dagang dengan Israel. Toh, kata dia, yang sering terjadi malah Indonesia acap kali tak berdaya dan tidak punya bargaining power dalam melakukan hubungan dagang dengan negara manapun.
“Justru yang menjadikan itu (hubungan, red) penting adalah tergantung Indonesia. Nah, sekarang dengan Israel. Pertanyaannya, apa yang mau dikerjasamakan? Apa manfaatnya,” tandasnya.
Bidik Indonesia
Belum lama ini dikabarkan, kelompok Grup Bakrie bersama rekanannya Recapital Advisors melakukan pencatatan saham jalur belakang (backdoor listing) di Bursa Efek London melalui transaksi tukar guling saham dan akuisisi dengan keluarga Rothschild senilai Rp 27 triliun.
Penandatanganan perjanjian jual beli saham telah dilakukan antara PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Recapital Advisors dan Vallar Plc pada Selasa, (16/11/) lalu. Mekanisme transaksi raksasa senilai Rp 27 triliun ini dilakukan melalui 2 cara, yaitu tukar guling saham dan pembayaran tunai oleh Rothschild.
Rothschild selanjutnya ingin menjadikan perusahaan gabungannya dengan Bakrie itu sebagai pemasok batubara terbesar ke China. Sebagaimana diketahui, Nathaniel, kelahiran 1971, adalah bungsu dan satu-satunya lelaki dari empat keturunan Jacob Rothschild. Jacob adalah baron keempat The Rothschild’s. Dia juga dikenal sebagai donatur Israel sekaligus Presiden Kehormatan Institute for Jewish Policy Research (IJPR). [ain/cha/hidayatullah.com]
Foto: kcm