Hidayatullah.com–Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Dokter Sarbini Abdul Murad mengaku prihatin dengan pelarangan jilbab yang terjadi di Rumah Sakit Delta Surya Sidoarjo, Jawa Timur.
Padahal, kata Sarbini, dalam dunia keperawatan tidak mengenal standar seragam yang baku untuk para perawat atau karyawati yang berkerja di RS. Masalah cepat atau lambatnya penyembuhan pasien sama sekali tidak ditentukan oleh seragam perawat.
“Kalau standar warna seragam perawat itu memang ada. Misalnya warna harus warna yang menyejukkan pasien. Tidak membuat pasien malah tambah pusing. Tapi kalau soal desain maupun bentuk seragam tak ada standarnya,” jelas Sarbini kepada hidayatullah.com, Rabu (26/1) pagi.
Cepatnya kesembuhan pasien, lanjut Sarbini, ditentukan oleh pelayanan yang prima. Misalnya kesopanan dan keramahan para perawat kepada pasien.
”Nah, ternyata banyak pasien yang saya jumpai merasa nyaman dengan perawat berjilbab, karena kesopanan dan kerahamannya itu,” terangnya.
Sarbini mengisahkan pengalamannya saat menangani pasien perempuan beragama Katolik di klinik miliknya. Sang pasien mengaku merasa nyaman bila melakukan pengobatan di lembaga kesehatan yang terdapat perawat berjilbab.
Maka, jika masih ada pihak-pihak yang melarang pemakaian jilbab karena dapat menganggu pekerjaan menurut Sarbini itu alasan yang mengada-ada.
”Di mana letak mengganggunya? Keselamatan pekerjaan yang seperti apa? Memangnya perawat berjilbab harus memanjat tower?” kelakarnya.
Sarbini berharap kasus pelarangan jilbab di RS Delta Surya ini segera ditanggapi oleh pihak-pihak terkait.
”Saya berharap kasus-kasus seperti ini tidak terulang dimasa akan datang,” demikian Sarbini. *