Hidayatullah.com— Kegiatan pendidikan masyarakat adalah hal yang paling memungkinkan untuk melibatkan masyarakat aktif dalam pembangunan sebuah bangsa. Melalui proses pendidikan masyarakat tersebut, diharapkan akan mampu menjawab perubahan yang terjadi tanpa menanggalkan identitas kebangsaan berdasarkan nilai nilai religiusitas.
Demikian dikatakan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Dr. Abdul Mannan, pada acara seminar sehari bertajuk “Rencana Strategis Pembangunan Kota Depok”, di Aula Gedung Pemkot Kota Depok, Ahad (19/6).
Abdul mengimbuhkan, pengaruh globalisasi berdampak sangat serius dalam kehidupan religiusitas keberargamaan. Pergesaran nilai dan perilaku pun terjadi begitu drastis dan masif.
Sehingga tak pelak, lanjut Abdul, masyarakat yang pada awalnya religius bisa berubah menjadi materialis dan sangat liberalis, yang kemudian menolak peran penting agama sebagai basis pembangunan masyarakat.
“Seharusnya globalisasi diarahkan pada terciptanya kerukunan umat beragama dengan tidak menegasikan salah satu agama. Sebab salah satu syarat dalam pembangunan adalah tegaknya fungsi stabilitas sosial,” terang Abdul.
Pendidikan masyarakat dapat menjadi wahana straetgis untuk membangun kesadaran kolektif dalam rangka mengukuhkan ikatan sosial, degan tetap menghargai keragaman budaya, ras, suku, dan agama, sehingga dapat memantapkan tatanan kerukunan sosial.
Abdul menambahkan, pendidikan masyarakat sejatinya menuntut adanya langkah progresif untuk terciptanya masyarakat yang cerdas dan aktif dalam pembangunan. Dalam pada itu, pendidikan agama adalah harus menjadi perhatian dan prioritas.
“Agama dan sains harus sejalan, sehingga masyarakat benar benar akan tetap maju secara materi dan juga sejahtera secara jiwa,” kata Abdul yang juga seorang ekonom ini.
Menurut Abdul, untuk membangkitkan dan menempatkan dunia pendidikan agama dalam peran yang ideal dengan karakteristiknya yang progresif, paling tidak yang harus dilakukan adalah menempatkan kembali seluruh aktifitas pendidikan di bawah framework agama. Yakni menjadikan seluruh aktifitas intelektual senantiasa dilandasi nilai agama yang bertujuan untuk menegakkan agama dan mencari ridha Allah Subhana Wata’ala.
Selain itu, juga memperhatikan keseimbangan antara disiplin ilmu agama dan pengembangan intelektualitas dalam kurikulum pendidikan. Yang tak kalah penting, lanjut dia, adalah memberikan kebebasan kepada civitas akademika untuk melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal di tengah masyarakat.
Dengan startegi ini, harap Abdul, pendidikan akan mampu menghasilkan sumber daya yang benar-benar mampu menghadapi tantangan zaman dan peka terhadap lingkungan dengan tetap berlandaskan pada nilai nilai keimanan.
Abdul menandaskan, Kota Depok sebagai kota penyangga ibu kota negara, yang menekankan misi pada pendidikan keluarga dan masyarakat berbasis nilai-nilai agama, adalah sangat strategis.*