Hidayatullah.com—Organisasi Syiah di Indonesia, Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI), mengatakan meminta tokoh agama bisa mempertahankan dan melestarikan sikap tasamuh (toleransi) dalam menghadapi perbedaan agama dan eyakinan. Pernyataan ini disampaikan Pimpinan Pusat IJABI, Dr Jalaluddin Rahmat dalam sebuah pernyataan pers di Kantor Pusat IJABI, Jalan Kemang, Jakarta Selatan.
“Dahulukan akhlak di atas fikih dalam menghadapi perbedaan faham di dalam internal umat Islam tidak menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk kepentingan politik dan ekonomi demi memelihara NKRI,” ujar Kang Jalal, demikian ia kerap dipanggil kepada pers, Rabu (29/08/2012) malam.
Lebih jauh, pria yang menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro IJABI ini meminta pihak pers tidak memuat atau membentujopini yang tidak menyejukkan.
Beda Rukun Dinilai Tak Masalah
Dalam konferensi pers tersebuu, IJABI juga mengeluarkan kronologi konflik Sunni-Syiah di Sampang versi Syiah.
Menurutnya, Tajul Muluk di serang pertama kali tahun 2004 saat peringatan maulid. Dua tahun kemudian pesantren IJABI di Bondowoso diserang. Pelakunya berhasil diadili. Tahun 2006, ustadz Tajul Muluk bersama adiknya Raisul Hukama dilantik menjadi pimpinan IJABI daerah Sampang. Tahun 2007, komunitas Syiah diteror berulang kali. Termasuk di antara orang yang membela komunitas Syiah adalah Rois.
Versi IJABI, karena masalah konflik keluarga, Rois bergabung dengan para penyerang Syiah dan akhir 2011, ia menyatakan bertaubat dari Syiah dan ikut memimpin penyerangan terhadap madrasah dan masjid kakaknya, Tajul.
Saat ada yang bertanya masalah Rukun Iman dan Rukun Islam antara Sunni dan Syiah, Kang Jalal hanya mengatakan, seperti perbedaan perumusan Pancasila sebelum ditetapkan dan disepakati. Menurut Jalal, perbedaan rukun itu bukan sebuah masalah.
Dalam acara itu, Jalal juga mengungkap jumlah kaum Syiah di Indonesia yang sudah mencapai 2,5 juta lebih dan melakukan taqiyah untuk menyembunyikan identitasnya. [Baca juga: Jalal: Jumlah Orang Syiah Indonesia 2,5 Juta, Tapi Taqiyah ]
*