Hidayatullah.com–Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan, tidak ada negara lain seperti Indonesia dalam hal pelaksanaan toleransi. Hal itu disampaikan ketika menerima kunjungan Duta Besar Norwegia, Stig Traavick, Bishop Gunar Stalseel, dan First Secretary of Norwegian Embassy, Constantin Carame, di Gedung Kementerian Agama, Jl. MH. Tahmrin, Jakarta (Rabu, 10/9/2012).
“Kerukunan antarumat beragama di Indonesia sangat luar biasa. Tidak ada negara lain seperti Indonesia,” tegas Menag.
Menurutnya, ada enam agama dipeluk masyarakat Indonesia. Setiap agama itu mempunyai hari besar keagamaan (hari raya) yang oleh negara dijadikan sebagai hari libur nasional, sebagai bentuk penghormatan. Pada hari raya semua agama itu, Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Agama yang nota bene Muslim, hadir dalam perayaannya.
“Penghormatan ini termasuk untuk agama Konghucu, sekalipun jumlah pemeluknya sangat sedikit,” ujar Menag.
Sementara terkait masalah pendirian bangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Menag menjelaskan,itu bukan persoalan agama atau antarumat beragama, tetapi semata-mata persoalan Izin Mendirikan Bangunan.
“Karena tidak memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah setempat tidak mengeluarkan izinnya,” kata Menag.
Lebih lanjut, Menag menjelaskan bahwa persoalan semacam ini bukan hanya dialami oleh gereja. Di Jakarta ada masjid yang tidak bisa dibangun karena IMB-nya tidak dikeluarkan Gubernur, disebabkan persyaratannya tidak terpenuhinya.
Padahal “yang punya” masjid (Baitul Ma’mur di Menteng) Djan Faridz, Menteri Perumahan Rakyat, orang Islam, dan asli Betawi. Gubernurnya saat itu adalah Fauzi Bowo, orang Betawi dan Muslim. Keduanya pernah dan jadi pengurus NU, organisasi masyarakat Islam yang sangat besar di negeri ini.
“Untuk mengetahui yang sebenarnya tentang kehidupan beragama dan kerukunan di Indonesia, hendaknya tidak hanya mendasarkan pada informasi di media. Perlu mengunjungi dan melihat langsung fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan,” pesan Menag, dilansir laman Kemenag.*