Hidayatullah.com — Belum lama ini beredar video asusila yang diperankan oleh anak SMP di bawah umur, lalu konten itu menyebar secara viral di internet. Kenapa remaja, bahkan anak usia di bawah umur, berani berbuat sedemikian nekat?
Dorongan untuk melakukan tindak asusila seperti itu dinilai pakar manajemen pendidikan anak, Sofia Hartati, karena mudahnya anak mengakses teknologi informasi melalui gadget mereka. Sementara di waktu yang sama anak tak mendapatkan pendampingan yang cukup dari otoritas terdekatnya yaitu orangtua.
“Lingkungan terdekat anak yaitu orangtua jangan membiarkan anak asyik sendirian dengan gadgetnya. Pedampingan harus dilakukan, tapi tentu saja pendampingan yang simpatik dan tidak intimidatif,” kata Sofia Hartati kepada hidayatullah.com, Sabtu (16/11/2013).
Kali ini ia pun sepakat agar negara terlibat aktif memblokir situs-situs yang dianggap terbukti mentrasmisikan konten-konten negatif dan asusila lainnya.
“Negara lain saja bisa kok nutup situs situs asusila kenapa kita tidak bisa. Ini butuh dukungan semua pihak, artinya yang ditutup juga harus punya kesadaran bahwa ini untuk kepentingan Indonesia, kepentingan anak anak bangsa ke depan,” terang anggota Konsorsium Himpaud Pusat ini.
Dalam mengantisipasi pengaruh negatif teknologi informasi yang kapan dan di mana saja dapat diakses oleh siapa pun, Hartati menegaskan pentingnya peran orangtua.
Menurutnya, pornografi sejatinya bukan hanya gambar vulgar, tetapi juga pemberitaan kasus asusila yang tendensius yang memberikan pengaruh bagi pembaca atau penonton anak, karena anak itu masanya meniru.
Ia menegaskan orangtua tidak boleh meninggalkan anak anak yang asik sendirian dengan gadgetnya. Fungsi keluarga harus menjadi nomor satu dalam pendampingan anak.
Pemerintah harus juga keras terhadap sensor penyiaran berita baik itu media gambar, teks, maupun elektronik. Televisi yang mengabaikan regulasi itu harus ditutup, tukas Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.
“Orangtua tidak boleh ada alasan sibuk untuk mendampingi anak anaknya. Tanggungjawab pendidikan anak adalah pada orangtua. Keluarga harus menjadi portal utama dalam pendidikan anak anak,” tandasnya.*