Hidayatullah.com–Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan peringatan Resolusi Jihad NU akan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan di Surabaya pada tahun-tahun selanjutnya. Hal ini sekaligus merupakan bentuk pengakuan pemerintah bahwa Resolusi Jihad bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia.
“Resolusi jihad menjadi hal yang tak terpisahkan dari perjuangan 10 November di Surabaya dan sudah ditulis dalam sejarah. Ini akan kita peringati pada tahun-tahun selanjutnya sebagai rangkaian dari peringatan Hari Pahlawan,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf dalam acara puncak Napak Tilas Resolusi Jihad di Jalan Bubutan Surabaya, Ahad (24/11/2013).
Menurutnya, kegiatan Napak Tilas Resolusi Jihad sangat penting dilakukan guna mengutuhkan sejarah. Kegiatan juga diselenggarakan di depan kantor PCNU Surabaya yang 68 tahun silam menjadi markas para kiai membahas kehadiran tentara Sekutu dan puncaknya dikeluarkan resolusi jihad yang menggerakkan para santri dari berbagai daerah dan arek-arek Suroboyo bangkit melawan tentara Sekutu.
Penggagas kegiatan Napak Tilas Resolusi Jihad Choirul Anam mengatakan, fatwa resolusi jihad itulah yang membakar semangat para pejuang melawan tentara Inggris, sang pemenang Perang Dunia II, hanya dengan bermodal bambu runcing dan senjata rampasan.
Hadir dalam acara puncak ini antara lain Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali, Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ, mantan Wakil Presiden RI Jenderal (purn) Tri Sutrisno, Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Miftahul Akhyar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah, sesepuh NU KH Sholeh Qosim, dan putra Bung Tomo Bambang Sulistomo.
Dilaporkan laman NU, Napak Tilas Resolusi Jihad dimulai dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan berakhir di Jalan Bubutan Surabaya, tidak jauh dari Tugu Pahlawan. Sebagian peserta napak tilas menempuh perjalanan dengan sepeda ontel dari Jombang sejak pagi.
Mengapa napak tilas dimulai dari Jombang? Kata Cak Anam, bukan saja karena Jombang adalah tempat kediaman KH Hasyim Asy’ari. Sejarah mencatat, pasca pengeboman Hirosima dan Nagasaki, dan setelah tentara Jepang tidak bersemangat lagi, pelatihan militer untuk para pemuda Indonesia dipindahkan dari Cibarusa ke Jombang.*