Hidayatullah.com–Umat Islam sesungguhnya merindukan kehadiran televisi yang menyajikan tuntunan syariat Islam. Hal itu terrungkap dalam talkshow bertama “Let’s Speak, Grab Your Audience!”, di Masjid Agung Sunda Kelapa, Sabtu, 29 Maret 2014.
“Kami merindukan televisi syariah yang memunculkan siraman rohani pada jam tayang utama. Kalau kita lihat sekarang, kebanyakan tausyiah ada di jam 4 atau jam 5 pagi. Siapa yang akan menonton jam segitu? Tidak banyak!”cetus seorang peserta talkshow di depan pembicara yang tak lain penulis buku ‘Bokis’ dan ‘Matahati’, Maman Suherman.
Menanggapi hal itu, Maman menyampaikan, belasan tahun lalu sesungguhnya pernah berdiri televisi Islam, Muslim TV (MTV), namanya. Tak berapa lama kemudian, berubah menjadi Music Television (MTV) yang sekarang akhirnya bermetamorfosis menjadi Global TV.
“Anda diam, kok! Tidak pernah lagi menuntut, kemana acara Muslimnya? Kalau Islam mau masuk dalam jiwa pertelevisian, Andalah nanti jadi ujung tombaknya,”ulas Maman pada seluruh peserta talkshow jamaah MY Night (Muslim Youth Night) Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA).
Selain itu, pria yang pernah menjadi Managing Director di Rumah Produksi Avicom itu menghimbau pada masyarakat untuk tidak terpaku pada label syariah pada sebuah acara atau bahkan stasiun televisi.
“Jangan terpesona dengan format islami, tapi terkesan tidak. Setiap bulan Ramadhan semua menyatakan dirinya islami. Lalu setelah itu, mereka lepas lagi. Lalu Anda bahagia bahwa kita telah islami? Anda jangan (mau) dibohongi oleh kemasan,”tukas Maman.
Penulis skrip untuk berbagai program acara di televisi itu juga mencontohkan berbagai acara yang dilabeli sebagai acara religi namun tidak sesuai syariat.
“Ada beberapa Sinetron yang dilabeli sebagai Sinetron Islami namun tidak sesuai dengan jalan cerita. Tapi yang kita lihat apa? Nilai-nilai Islam yang masuk di dalamnya? Cuma cerita pacaran dan sebagainya, lalu kemudian kita senang,” ulas alumni jurusan Kriminologi FISIP-UI itu.
Meski demikian ia melihat ada potensi besar yang dimiliki umat Islam. Penggagas Panasonic Gobel Awards itu mencontohkan gerakan penolakan para Ibu di Amerika Serikat (AS) terhadap penayangan sebuah film. Di mana film tersebut mengumbar banyak kata-kata makian, celaan dan hinaan.
Rupanya para ibu khawatir hal tersebut berpengaruh buruk bagi perilaku anak-anak mereka. Akhirnya mereka menuntut stasiun penayang menghentikan acara tersebut.
Televisi itu menolak karena film tersebut menempati rating tertinggi di antara acara lainnya. Akhirnya para Ibu seluruh AS berkumpul dan mendeklarasikan sebuah gerakan: pemboikotan produk yang beriklan saat film tersebut ditayangkan. Mereka tidak akan membeli produk selama film masih diputar.
Apa yang terjadi? Acara itu gulung tikar dengan sendirinya. Tidak berapa lama kemudian, muncul kebijakan penghentian penayangan.
Kekuatan yang sama, diyakini Maman, juga dimiliki oleh umat Islam di Indonesia. Sesungguhnya umat Islam memiliki kekuatan merubah nasib bangsanya.
“Umat Islam di Indonesia harus menyatakan, kami tidak akan membeli produk yang menjelek-jelekkan umat Islam di televisi,” tuturnya. Selanjutnya, industri televisi akan perlahan mati jika ditinggalkan oleh penontonnya yang mayoritas beragama Islam.*