Hidayatullah.com– Pengamat geopolitik ekonomi Global Future Institute Hendrajit mengatakan, bahwa persoalan mengapa mafia Minyak Gas (Migas) sulit diberantas salah satunya ialah karena adanya perusahaan swasta atau asing yang mencoba ingin ‘menguasai’ di republik ini.
Misalnya saja melalui seseorang dan kelompok tertentu yang telah disiapkan untuk menduduki jabatan starategis di sebuah lembaga atau instansi pemerintah.
“Ada rencana me-negaranya swasta melalui lembaga institusi negara,” ujarnya dalam acara diskusi “Migas Untuk Raktat” yang diadakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Ahas siang (21/09/2014), di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta.
Dan institusi yang ia maksud adalah Kementrian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Karena itu, menteri-menteri dipilih Joko Widodo (Jokowi) harus punya integritas, profesional dan harus punya penguasaan politik.
Persoalan selanjutnya mengapa mafia Migas sulit diberantas, menurut Hendrajit karena lebih disebabkan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dijadikan tradisi. Di mana dalam hal ini pemerintah melalui presiden nampak “mengangguk” oleh kepentingan Barat daripada rakyatnya sendiri. Akibatnya ingin memberantas mafia terhalang oleh kepentingan tersebut.
“Unsur utama ialah import BBM dijadikan kebiasaan,” tambahnya.
Justru baginya rakyat adalah kepentingan besar yang sesungguhnya.
Di akhir pembicaraan Hendrajit mengingatkan Indonesia agar senantiasa mewaspadai adanya dijadikan sasaran tembak kepentingan geopolitik China dan Amerika Serikat (AS). Mengingat Amerika dan China yang acapkali berebut daerah minyak Laut China Selatan yang tidak pernah berujung pada keuntungan maksimal.
“Indonesia sasaran geopolitik China dan Amerika akibat Laut China Selatan. Maka dibutuhkan pemimpin ESDM yang berintegritas tinggi terhadap bangsa,” tutupnya.*