Hidayatullah.com–Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat, Dr Hamid Fahmy Zarkasyi mengajukan beberapa solusi atas berbagai krisis yang menimpa umat akhir-akhir ini.
Menurutnya, persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini sesungguhnya kembali lemahnya peran maksimal ulama dan image buruk terhadapnya.
“Tidak semua yang disebut ‘ulama’ itu merupakan ulama. Ada ulama suu’ (jahat), dan ulama ‘jadi-jadian,’” ujar Hamid pada Pada Silaturahim Nasional (Silatnas) ke-3 MIUMI, di Sumber Alam Resort Cipanas, Garut Jawa Barat.
Image tidak baik terhadap ulama misalnya, tegas Hamid, karena memang kesalahan ilmu seperti masih kuatnya dikotomi ilmu.
“Ada ulama kuasai fikih tetapi tidak tahu ilmu sosial, ada ahli sains namun tidak tahu syariah. Tugas ulama kita sekarang menghilangkan dikotmi itu. Gap yang terjadi ini tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia Islam,” tambah Direktur Pascasarjana UNIDA Gontor tersebut.
Menurutnya, secara ideal seorang ulama adalah seperti ulama dahulu menguasai syariah sekaligus menguasai ilmu-ilmu ‘umum’ atau sains.
Tapi, kata Hamid, kita saat ini kesulitan untuk mencapai hal tersebut. Setidaknya, tegas Hamid, adalah agar tidak ada ulama ‘jadi-jadian’ itu maka ulama dan para ahli ilmu-ilmu umum harus silaturahim.
“Mereka para ahli harus duduk bersama,” nasihatnya.
Dalam Silatnas yang dihadiri pengurus MIUMI dari berbagai daerah, ketua Umum MIUMI itu menjelaskan bahwa ada pandangan bahwa para ahli umum itu orang pintar sedangkan orang ahli syariah itu tidak pintar.
“Krisis semua itu karena hegemoni pendidikan sekuler yang diiekspor ke dunia Islam,” tambahnya.
Karena itu, maka perlu dibuat contoh yang benar konsep pendidikan Islam di PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam).
Sementara itu, dalam acara itu Dr. Adian Husaini, juga menyampaikan, terkait kita yang tidak pantas disebut ulama harus tahu diri.
“Kita harus bisa mengukur, kita dimana tingkat keilmuannya. Seperti imam al-Ghazali dia ikut imam Syafi’i. Ini adab yaitu tahu menempatkan diri,” terangnya.
Makanya, tambah ketua prodi Pendidikan Islam Pascasarjana UIKA Bogor mengingatkan tentang kerusakan ulama itu karena tiga faktor.
“Penyakit ulama ada tiga yaitu; hasad, riya dan ujub. Tiga sifat tersebut yang menghancurkan ulama,” tegas inisiator MIUMI tersebut.*