Hidayatullah.com — Umat Islam di seluruh dunia menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri 1436. Umumnya aneka menu khas lebaran pun terhidang menggoda selera. Setelah sebulan berpuasa, sekarang makanan apa saja boleh dimakan dengan beragam sajian. Siapa yang tak tergoda.
Jika tidak bisa menahan diri, bisa jadi untuk orang dengan kondisi kesehatan tertentu akan berakibat fatal. Akibat dari mengkonsumsi makanan berlebihan dan jauh dari gaya hidup sehat.
Direktur Islamic Medical Service (IMS), Drg Fathul Adhim, M.KM, mengingatkan bahwa menahan diri untuk tidak mengkonsumsi makanan berlebihan mungkin berat tetapi itu harus dilakukan untuk membangun kebiasaan pola hidup sehat sebagaimana telah dicontohkan Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Apalagi di momen Idul Fitri.
“Penting diketahui, status kesehatan seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor makanan. Banyak penyakit yang muncul sekarang umumnya berkaitan langsung dengan pola makan yang berlebihan,” kata Fathul Adhim dalam keterangan persnya dan ditulis Hidayatullah.com, Jum’at (16/07/2015).
Dia menegaskan pentingnya pola makan terjaga di saat Ramadhan dipertahankan di luar puasa.
Bagi mereka yang mempunyai gangguan penyakit seperti penderita diabetes, asam urat, hipertensi, kolesterol tinggi, diingatan untuk tetap waspada. Tetaplah berdisiplin dan sayangi tubuh dengan memperhatikan pola makan anda, ujar Fathul.
Kadangkala bagi sebagian orang momen hari raya hanya sekali setahun, sehingga menganggap tidak mengapalah sekali ini menggentak berbagai makanan kendati sebenarnya adalah pantangan kesehatannya. Akibatnya, ada yang harus menjalani perawatan.
“Umat Islam harus berpedoman dan tetap memperhatikan adab-adab makan menurut Islam seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW yaitu makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan,” kata Fathul Adhim seraya mengutip hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud itu.
Fathul Adhim juga mengingatkan anjuran Nabi agar sarapan ringan terlebih dahulu ketika akan berangkat shalat Id. Hal ini lakukan, kata Adhim, agar perubahan pola makan ketika puasa tidak terjadi secara drastis.
Dia menambahkan, sesibuk apapun dalam menghadapi hari raya Idul Fitri sempatkan untuk tetap berolahraga. Hal sepele tapi bernilai penting, sebut dia, jika memungkinkan bersilaturahmi lebih baik berjalan kaki. Minimal jika berkendara, parkirlah agak jauh sehingga memberi peluang kita untuk aktifitas fisik.
“Dengan olahraga, Insya Allah, maka tubuh kita akan lebih sehat, kuat, dan energik,” imbuhnya.
Fathul menuturkan kebiasaan ibadah di bulan puasa hendaknya tetap dijalankan rutin sebab disitulah sebenarnya energi puasa Ramadhan. Termasuk kualitas ibadah tetap dipertahankan seperti menjaga jamaan shalat lima waktu, membaca al-Qur’an, tetap melaksanakan shalat tahajjud, shalat dhuha, dan lain sebagainya.
“Karena dengan ibadah tersebut kebutuhan rohani kita untuk tetap berhubungan dengan sang Khaliq sangat dibutuhkan oleh tubuh,” pungkasnya.