Hidayatullah.com– Membandingkan dua hal berbeda harus seimbang. Kalau tidak, pasti ada maksud tertentu. Demikian kata Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Prof. Yunahar Ilyas soal ungkapan “pemimpin kafir yang jujur lebih baik daripada pemimpin Muslim yang korupsi”.
Menurutnya, ungkapan tersebut merupakan perbandingan yang tendensius dan tidak berimbang. Ia menganalogikan dengan “perempuan yang berpendidikan tinggi jauh lebih pintar daripada laki-laki yang tidak sekolah”.
“Itu tidak bisa berarti perempuannya lebih pintar, tidak. Memang lelakinya yang tidak sekolah,” ujar Yunahar kepada hidayatullah.com di sela-sela acara seminar nasional bertema “Penyusunan Panduan Ukhuwah Islamiyah” di Jakarta, Senin (25/04/2016).
Sebagai Muslim, Ketua PP Muhammadiyah ini tidak setuju jika pemimpin Muslim dikesankan demikian.
“Kalau saya tinggal dibalik saja, daripada memilih pemimpin kafir yang dzalim dan korupsi, lebih baik Muslim yang jujur dan adil. Kenapa sih kita harus rendah diri, kenapa semua yang buruk diberikan kepada tokoh-tokoh Islam?” ungkapnya.
Ia juga menyebut, ungkapan seperti itu merupakan propaganda. Sehingga umat perlu untuk dididik dan diedukasi.
“Sekarang ini, kan, perang propaganda, perang media. Pasti ada maksud membuat opini seperti itu. Tujuannya ya menyudutkan pemimpin Muslim, menonjolkan pemimpin non-Muslim,” jelasnya.
“Jadi ungkapan seperti itu tidak ada urusan dengan kebenaran, urusannya adalah dengan kepentingan,” pungkas Yunahar.*