Hidayatullah.com– Kejadian penganiayaan terhadap jurnalis diduga oleh oknum TNI Angkatan Udara (AU) di Medan, Sumatera Utara, Senin (15/08/2016) lalu, menambah daftar kekerasan terhadap wartawan.
Diketahui, oknum TNI AU melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan seksual kepada dua orang jurnalis dan seorang wartawati media online. Kejadian terjadi saat para jurnalis meliput bentrok warga terkait sengketa lahan di Jl Adi Sucipto, Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia.
Sebelum itu, berbagai kekerasan kerap dialami oleh para jurnalis. Berikut di antaranya, dirangkum hidayatullah.com dari siaran pers pada aksi unjuk rasa jurnalis di Jakarta, Kamis (25/08/2016). [Baca: Aksi Jurnalis Desak Menkopolhukam-Panglima TNI Tindak Tegas Penganiaya Wartawan]
Dianiaya
Selasa (30/06/2015), kekerasan dialami oleh wartawan TV One, Yoga Syahputra Simorangkir. Dia dianiaya oleh perwira TNI AU saat meliput jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Jl Djamin Ginting, Padang Bulan, Medan. Akibatnya, perut dan paha Yoga mengalami memar.
Saat itu, Yoga dan sejumlah awak media sedang mengambil momen-momen gambar pesawat yang terbakar serta porak-porandanya beberapa gedung. Pengambilan gambar dilakukan dari luar batas garis polisi (police line).
Namun, Mayor Andi, seorang perwira TNI AU, melarang awak media mengabadikan insiden tersebut. “Sana kalian, ngapain kalian foto-foto. Siapa kalian rupanya,” bentak Andi kepada sejumlah awak media.
Karena posisi mereka di luar garis polisi, para awak media cuek saja. “Kami, kan, di luar police line, kenapa Bapak (Andi) larang kami,” ujar Yoga.
Mendengarnya, Andi berang lalu menendang paha dan perut Yoga. Petugas lain pun menahan Andi yang saat itu cekcok mulut dengan awak media.
Alat Peliputan Dirampas
Rabu (10/02/2016), dua jurnalis Jawa Pos Radar Malang, Darmono (fotografer) dan Nurlayla Ratri (jurnalis) diintimidasi oleh oknum TNI AU. Saat itu keduanya meliput di sekitar lokasi jatuhnya pesawat tempur taktis Super Tucano TT-8130 di Jl LA Sucipto, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur.
Oknum prajurit TNI AU yang tengah mengamankan lokasi insiden itu merampas kartu memori kamera, kartu pers, dan pesawat tanpa awak (drone). Berdasarkan keterangan kedua jurnalis itu, mereka sempat diintimidasi dengan nada mengancam.
Dicekik dan Dipukul
Selasa (16/10/2012), wartawan dipukul saat tengah meliput jatuhnya pesawat tempur TNI AU jenis Hawk 200 di Kabupaten Kampar, Riau. Pelakunya adalah oknum TNI AU Lanud Roesmin Norjadin Pekanbaru.
Kemudian, pada 1 September 2012, kekerasan dialami oleh fotografer Tempo Biro Bandung, Prima Mulia (nama samaran). Saat itu ia tengah meliput kecelakaan pesawat Cessna yang jatuh menimpa gedung dan atap di Pusat Litbang TNI AU di Bandung Air Show 2012.
Saat baru memotret 2-3 detik, sekitar 4 orang petugas POM TNI AU datang mencekik leher dan menelikung badan Prima. HP dan kamera korban pun dirampas. Sambil terus mencengkeram, para pelaku berteriak-teriak agar Prima dibawa ke kantor untuk diperiksa dan ditahan di sana.
Kamera Dirusak
Pada 12 Juli 2012, kamera jurnalis Hanif Nasrullah (nama samaran) dan sejumlah wartawan lainnya dirusak oleh oknum TNI AD.
Kejadian terjadi saat para jurnalis Memorandum itu hendak meliput eksekusi 5 rumah dinas Kodam V Brawijaya di Jl Taman Hayam Wuruk, Surabaya, Jawa Timur. Penjagaan ketat pasukan TNI AD pada eksekusi ini terkesan berlebihan.
Sebelum itu, pada 21 Juni 2012, perusakan kamera wartawan Kompas TV dan BeritaSatu dilakukan oleh oknum TNI AU. Terjadi saat para jurnalis sedang meliput jatuhnya pesawat Fokker-27 di Jl Branjangan, RT 11, RW 10, Kompleks Rajawali, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Data kekerasan tersebut dirilis oleh Aliansi Wartawan Jakarta Raya, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta, Ikatan Jurnalis Lintas Media (IJLM), Lensa Pusat, dan Poros Wartawan Jakarta (PWJ). Aksi demo pada Kamis (25/08/2016) di depan kantor Menkopolhukam itu juga diikuti perwakilan Jurnalis Islam Bersatu (JITU). [Baca juga: PWI Pusat Kecam Kekerasan TNI AU pada Wartawan]*