Hidayatullah.com– Perintah pertama yang Allah Subhanahu Wata’ala turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah “iqra'”, “Bacalah!”
Perintah tersebut, jelas Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad, dalam pembukaan Rakernas Hidayatullah di Kampus Hidayatullah Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (28/12/2016), memberikan banyak penjelasan tentang keadaan manusia saat ini.
Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan manusia dengan karakter yang baik sesuai fitrahnya. Namun kebanyakan manusia tumbuh menjadi insan yang mengingkari fitrah tersebut. Mereka menjelma menjadi manusia yang buruk.
“Itu karena manusia salah membaca,” tutur Ustadz Abdurrahman lagi.
Akibat salah membaca, sesuatu yang menggiurkan, bisa menistakan. Harta yang diburu mati-matian, bisa menjerumuskan. Jabatan yang diraih dengan susa payah, bisa menjungkirbalikkan.
Hasyim Muzadi: Masyarakat Perlu ‘Membaca’ dengan ‘Nama Allah’
Sejarah pernah mencatat, jelasnya, kaum Muslim sempat mengalami zaman keemasan. Saat itu kaum Muslim menguasai ilmu pengetahuan.
Kemudian datanglah kaum kafir dari Eropa, merampas ilmu pengetahuan dari kaum Muslim. Namun mereka salah membaca. Akibatnya, tujuan mulia dari ilmu pengetahuan tak bisa mereka raih. Kebaikan, sebagaimana fitrah manusia, tak bisa diperoleh. Yang terjadi justru mereka kian jauh dari fitrah.
Ujung dari pembacaan yang diserukan Allah Subhanahu Wata’ala tersebut, kata Ustadz Abdurrahman, adalah menjadikan manusia sebagai hamba yang gemar sujud dan dekat dengan Allah Subhanahu Wata’ala . Ini dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam akhir surat Al-‘Alaq [96].
Inilah tanda apakah manusia salah baca atau tidak. Jika pembacaan seluruh ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala tersebut menjadikan manusia lebih tunduk dan sujud pada Allah, maka ia benar. Namun jika tidak, maka ia akan celaka.
“Jangan salah baca!” kata Ustadz Abdurrahman lagi.*