Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Antara Kasino, Etika dan Kedaulatan Politik

Ahmad
Terakhir diupdate: 20 Mei 2025 12:45 12:45 pm
Ahmad
Dipublikasikan 20 Mei 2025 13:00
Bagikan
Bagikan

Usulan legalisasi kasino –meskipun menaikkan pendapatan negara— berisiko memperbesar kesenjangan dan moral publik. Banyak studi menunjukkan perjudian sumber pencucian uang,  krisis sosial dan keretakan keluarga

Oleh: Ali Musa Harahap, Ph.D

Hidayatullah.com | DALAM sebuah pendapat mengejutkan,seorang angota DPR RI mengusulkan agar Indonesia meniru beberapa negara Arab dalam menjalankan kasino sebagai sumber baru Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Usulan ini, datang dari anggota DPR Fraksi Golkar, Galih Kartasasmita, dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR bersama Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan pada Kamis, 8 Mei 2025.

Meski disampaikan dalam konteks optimalisasi pendapatan negara, memunculkan perdebatan serius yang menyentuh aspek moral, tata kelola berbasis nilai (value-based governance), pemberdayaan politik rakyat (political empowerment), dan tentu saja, nilai-nilai Islam yang menjadi salah satu fondasi kebudayaan bangsa.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Menilai negara dari kacamata penerimaan semata adalah pendekatan teknokratis yang sempit. Dalam kerangka value-based governance, negara tidak boleh memisahkan kebijakan dari nilai-nilai etika, budaya, dan agama yang hidup dalam masyarakat.

Konsep ini menekankan bahwa keberhasilan tata kelola tidak hanya diukur dari efisiensi fiskal, melainkan dari sejauh mana kebijakan mencerminkan nilai luhur seperti keadilan, tanggung jawab sosial, dan kesejahteraan bersama.

Usulan legalisasi kasino, meskipun dapat menaikkan pendapatan negara, berisiko memperbesar kesenjangan nilai antara kebijakan negara dan moral publik. Banyak studi menunjukkan bahwa industri perjudian, terutama kasino, rawan menjadi sumber pencucian uang, eksploitasi, hingga krisis sosial, seperti kecanduan dan keretakan keluarga.

Apakah negara hendak menambal APBN dengan cara menggadaikan nilai-nilai tersebut?

Miskin Imajinasi Politik

Alih-alih memperkuat basis ekonomi produktif atau mereformasi sistem perpajakan yang adil dan progresif, usulan membuka kasino justru mencerminkan kemiskinan imajinasi politik. Dalam konteks political empowerment, rakyat berhak mendapat kebijakan yang lahir dari kepemimpinan visioner, bukan sekadar manuver populis yang menjual “kemiripan” dengan negara lain tanpa mempertimbangkan kontekstual budaya dan ideologis Indonesia.

Membandingkan Indonesia dengan negara-negara Arab yang mengizinkan kasino juga tidak sepenuhnya valid. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab atau Bahrain memiliki karakteristik politik otoriter dan model ekonomi rentier yang tidak bisa serta merta disamakan dengan demokrasi Indonesia yang pluralistik dan berbasis konstitusi.

Dari sudut pandang Islam, perjudian adalah maysir, dan secara eksplisit dilarang dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 90). Lebih dari sekadar larangan ritual, Islam menolak perjudian karena ia menghasilkan kekayaan tanpa usaha nyata, serta menumbuhkan gaya hidup spekulatif yang merusak fondasi kerja keras dan keadilan sosial.

Lebih jauh, dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 disebutkan bahwa “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” Pasal ini menuntut negara untuk menyelenggarakan pemerintahan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan, termasuk dalam kebijakan fiskal dan ekonomi.

Politik Ekonomi Berbasis Etika

Jika negara serius mencari sumber PNBP baru, banyak alternatif yang lebih etis dan berkelanjutan. Penguatan BUMN sektor digital, optimalisasi pajak dari industri ekspor digital, peningkatan royalti sumber daya alam yang adil, serta pembukaan investasi berbasis syariah adalah beberapa opsi strategis.

Indonesia bahkan dapat menjadi pusat halal economy global jika kebijakan ekonomi diarahkan sesuai dengan karakter masyarakat dan nilai-nilai yang dianutnya, dalam hal ini kita sudah tertinggal selangkah dengan negara tetangga Thailand yang sudah ‘berani’ mengklaim menjadi hub kepada ekonomi halal.

Usulan membuka kasino bukan sekadar soal politik ekonomi, tapi soal jati diri bangsa. Apakah kita bersedia menjual nilai demi uang?

Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap politikus dan lemahnya kontrol terhadap moralitas kebijakan, diperlukan suara publik yang lebih kuat, serta elit politik yang tidak kehilangan arah. Indonesia bukan hanya butuh penerimaan negara, tetapi juga arah moral dalam setiap keputusan strategisnya.

Penulis adalah pengajar Universitas Darussalam Gontor, alumnis Studi Ilmu Politik di International Islamic University Malaysia

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekasinokeretakan keluargakrisis sosialmoral publikpencucian uangpendapatan negaraperjudian
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR dan Kemenag Minta Aparat Menindak Temuan Grup “Fantasi Sedarah”
Tulisan selanjutnya Turki Desak Penjajah Hentikan Serangan Darat di Gaza

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Berita
1 September 2026 12:00
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun

Terbaru

  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?