Hidayatullah.com– Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) menggelar wisuda santri Papua angkatan ke-29 Pondok Pesantren Nuu Waar yang bertempat di halaman pesantren di Desa Tamansari, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Ahad (09/04/2017).
Tahun ini, wisudawan berjumlah sebanyak 61 santri Nuu Waar (Papua) di bawah asuhan dan beasiswa AFKN yang telah selesai menempuh pendidikan tinggi setingkat D-3 dan S-1 di berbagai kampus.
Adapun rinciannya, Akademi Perawat Sehat Binjai sebanyak 28 orang, Akademi Kebidanan Kholisaturahmi 8 orang, Akademi Kebidanan Jayakarta Sehat 21 orang, Universitas Esa Unggul 1 orang, Universitas 17 Agustus Surabaya 1 orang, dan Universitas Pamulang 2 orang.
Baca: Kedubes Saudi-AFKN Kuliahkan 63 Putra-putri Papua di LIPIA Aceh dan Jakarta
Pengurus AFKN, Tata Saputra dalam laporannya mengatakan, program ini merupakan bagian dari rencana strategi 2050 untuk menyediakan minimal 10 ribu tenaga pendidik, bidan, dan perawat profesional, guna mengentaskan persoalan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi di bumi Nuu Waar.
“Agar bagaimana meningkatkan kualitas output pendidikan, kualitas hidup bersih dan sehat, serta ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan untuk menjadi mandiri,” ujarnya.
Karenanya, ia menjelaskan, selepas wisuda para santri akan dikembalikan ke daerah masing-masing dan akan ditindaklanjuti oleh cabang AFKN bekerja sama dengan dinas terkait setempat.
Baca: IAIN Walisongo dan AFKN Tugaskan Mahasiswa Berdakwah di Papua
Tata mengungkapkan, hingga wisuda ke-29 ini pihaknya telah memberikan sekitar 6 ribu beasiswa bagi anak-anak Nuu Waar untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Di antaranya di Sulawesi, Jawa, Asia Tenggara, hingga Timur Tengah.
“Sebanyak 3.500-an sudah melaksanakan pengabdian kepada orang tua dan lingkungannya,” paparnya.
Ia menilai, apa yang dilakukan oleh para santri adalah satu hal yang luar biasa, yakni mengajak kepada kebaikan dan melayani umat.
“Mereka akan menerangi masyarakat di sana. Dengan membawa bekal ilmu yang diraih, dan bukan hanya ilmu dunia tapi juga ilmu agama yang diberikan,” tandas Tata.
Ia berharap para santri bisa tampil sebagai agen perubahan dan menjadi generator perubahan bagi wilayahnya.*