Hidayatullah.com–Salah satu dampak fanatisme itu adalah fikih yang seharusnya menjadi perangkat menerjemahkan kemudahan dan keluasan Islam, sering menjadikan Islam terkesan sempit dan kaku. Fenomena fanatisme mazhab fikih ditengarai menjadi sebab perpecahan dan kemunduran umat Islam jauh sejak sebelum abad kesembilan Hijriyah.
Dalam rangka untuk memajukan Islam di Negeri Serantu, Perserikatan Muhammadiyah menjalin kerja sama dengan Mufti Negara Bagian Perlis, Malaysia. Kerjasama antara rakyat Perlis dengan Muhammadiyah diharapkan menguatkan persaudaraan serumpun sekaligus usaha memajukan Islam di wilayah Asean.
“Saya sebagai rakyat Perlis, Mufti Perlis dan sebagai seorang pihak pentakdir urusan agama Islam di negeri Perlis ini melihat ini adalah satu hubungan yang sangat penting di dalam sejarah umat Islam di Nusantara dalam bahasa yang diguna atau di rantau alam Melayu Islam di Asia Tenggara,” tuturnya dikutip laman resmi Muhammadiyah, Senin (27/9/2021). “Saya mengharap hubungan yang baik. Dengan dua organisasi ini, kita akan kembali membawa umat pada taisirul fikih (kemudahan fikih), memulai kembali umat ini hidup, mempunyai pilihan-pilihan di dalam fikih, tetapi mereka tetap sebagai umat yang beridentiti dengan identity Islam,” imbuhnya.
Keinginan kerja sama ini disampaikan saat Diskusi Peradaban Serumpun seri pertama bertajuk “Keluasan Fiqh dalam Menangani Permasalahan Umat”, Senin (27/9/2021). Diskusi daring yang berpusat di Negeri Perlis Malaysia ini dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dan Mufti Negeri Perlis Malaysia, Dato’ Arif Perkasa Mohd Asri Zainul Abidin.
Dalam acara yang diselenggarakan Majelis Agama dan Istiadat Melayu Perlis (MAIPS) ini Mufti Negeri Perlis Malaysia, Dato’ Arif Perkasa Mohd Asri Zainul Abidin mengawali diskusi yang menjelaskan kekayaan agama Islam dengan khazanah fikih.
Menurut pria yang akrab dipanggil Dr Maza ini, fikih dalam Islam tidak terbatas pada empat imam saja. Karena itu perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadikan umat Islam saling bermusuhan. “Saya sampaikan hal ini agar umat Islam membuka ufuknya di dalam pemikiran untuk mengetahui kita punya khazanah Islam yang begitu besar,” kata Mohd Asri mengutip nama-nama besar seperti Imam Ja’far As Shadiq, Imam Al-Auza’i, Sofyan Tsauri, Imam Al-Laits ibn Sa’ad, Imam Sufyan ibn Uyainah, hingga berbagai karya mahsyur dalam khazanah fikih.
Menurutya, jika tidak menisbahkan pada mazhab satu bukan berarti tidak menghormati mazhab tersebut.
Sementara itu, Dr Haedar Nashir menyampaikan materi bertajuk “Rekonstruksi Fikih dalam Memecahkan Permasalahan Umat” yang berisi empat materi pokok yakni rRisalah Islam, keluasan fikih, permasalahan umat, dan rekonstruksi pemikiran dalam konstruksi Tajdid. Menyambung Dr Maza, Haedar Nashir berterimakasih atas ruang yang diberikan oleh mufti dan rakyat Perlis.
Haedar optimis, kesamaan pemikiran keagamaan di antara rakyat Perlis dan Muhammadiyah merupakan harapan untuk memajukan Islam yang maju dan mencerahkan. “Bagaimana mufti dan masyarakat Perlis, dan bagaimana pula Muhammadiyah mengagungkan mazhab dan tidak mencela mazhab tetapi kita tidak merujuk pada satu mazhab, tapi kita menggunakan khazanah mazhab di dalam pemikiran fikih dan pemikiran Keislaman,” kata Haedar.
Haedar kemudian menyampaikan bahwa fikih telah dipahami dengan sempit sehingga perbedaan di wilayah furu’, dimaknai sebagaimana perbedaan di wilayah ushul (pokok). Usaha bersama yang diperlukan saat ini, menurut Haedar adalah mengembalikan pemahaman umat kepada nilai dasar Islam yakni Islam adalah agama yang memudahkan umatnya dan fikih kembali pada posisi sebagai alat untuk menerjemahkan kemudahan Islam itu.
Usaha ini dianggap penting oleh Haedar sebab tantangan zaman semakin kompleks. Perangkat pemahaman agama atau fikih pun meniscayakan diikutsertakannya ilmu pengetahuan dan sains sebagai bahan pertimbangan fatwa Jika umat masih enggan melibatkan multi disiplin dan interkoneksi keilmuan, maka yang lahir hanyalah kejumudan beragama, dan umat akan terkungkung pada sikap yang selalu reaktif, apologis dan selalu mencari kambing hitam dari keadaan yang tidak bisa diatasi.
“Rekonstruksi keislaman dalam menangani masalah-masalah kehidupan meniscayakan Islam landing (membumi) di dunia nyata sebagaimana pemikiran yang dikembangkan Hassan Hanafi,” kata Haedar.*