Hidayatullah.com– Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin, mengingatkan penghulu untuk senantiasa menjaga integritas dalam melayani masyarakat. Hal ini seiring dengan terus diperbaikinya kesejahteraan para petugas pencatat perkawinan ini.
Hal itu disampaikan Dirjen saat membuka kegiatan Musabaqah Baca Kitab dan Lomba Karya Tulis Ilmiah (MBK LKTI) Bagi Penghulu Tingkat Nasional Tahun 2017, kemarin di Jakarta.
Dirjen menyebutkan, sejumlah regulasi telah disiapkan pemerintah untuk memperbaiki kesejahteraan para penghulu, seperti terbitnya PP Nomor 48 Tahun 2014 yang menjadi instrumen pendapatan penghulu menjadi bertambah.
Baca: “Bimas Islam Mengabdi untuk Negeri”, Buku soal Penghulu Agama akan Disusun
“Saat ini ada enam pendapatan yang diterima penghulu, mulai dari gaji pokok, tunjangan jabatan, tunjangan kinerja, uang makan, honor, dan transport,” ungkapnya lansir Kemenag, Senin (30/10/2017).
“Bahkan ada juga penghulu yang dapat tujuh, yaitu yang menerima BOP KUA,” Dirjen menambahkan.
Menurut Dirjen, perjuangan untuk memperbaiki nasib para penghulu tidaklah mudah. Sebab harus bisa meyakinkan Bappenas dan Kementerian Keuangan.
“Saya mau cerita soal honor, itu dulu perjuangannya sangat berat. Waktu itu kita sebut jasa profesi, tapi Kementerian Keuangan menolak. Lalu saya cari akal ganti istilah jasa profesi menjadi honor, saya analogikan dengan seorang dosen yang dapat honor jika mengajar di kampus lain, baru kemudian diterima,” ujar Dirjen menjelaskan.
Selain memperbaiki kesejahteraan penghulu, kata dia, Ditjen Bimas Islam juga memperbaiki gedung-gedung KUA Kecamatan tempat para penghulu bekerja dan bertugas.
“Pada tahun 2017 kita bangun 256 balai nikah, tahun depan sebanyak 245 gedung dan, pada tahun 2019 saya targetkan sebanyak 1.000 gedung sudah terbangun,” tandasnya.
Oleh karena itu menurut Dirjen, jangan sampai terdengar lagi ada penghulu yang menerima gratifikasi dan pungli dari masyarakat.
Penghulu, kata Dirjen, adalah jabatan yang bergengsi pada saat ini karena banyak peminatnya. Makanya menjadi tidak heran pada saat dilaksanakan diklat pembentukan penghulu pada tahun 2016, banyak diikuti para guru.*