Hidayatullah.com– Psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Rahmi Dahnan, mengungkapkan, kasus perceraian kian meningkat. Ia menyebut, data tahun 2008 sebanyak 10 persen pasangan nikah melakukan perceraian.
Rahmi mengatakan, perceraian tersebut umumnya dilakukan oleh pasangan muda dengan jumlah anak rata-rata satu atau sedang hamil anak pertama. Dan gugat cerai dominan dilakukan oleh pihak perempuan.
“65 persen dari perempuannya. Sangat miris sedini itu mereka sudah mengajukan gugatan cerai,” ujarnya kepada hidayatullah.com usai berdiskusi dengan Kementerian Agama di Jakarta, pekan kemarin.
Baca: Kasus Perceraian Non-Muslim Meningkat Tajam di Bengkalis
Adapun pemicu utama perceraian itu sendiri, papar Rahmi, adalah tertinggi faktor perselingkuhan. Lalu ketidakharmonisan rumah tangga, ekonomi, dan gangguan pihak keluarga.
Ia menambahkan, sedangkan yang juga menjadi akar permasalahan dari perceraian yaitu pengasuhan yang tidak jelas saat kecil, sehingga ketika menjadi suami atau istri tidak memiliki kecakapan yang matang dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Kemudian, sambung Rahmi, aqidah yang kurang kuat, yang membuat suami atau istri kurang tangguh menghadapi cobaan berumah tangga.
Baca: Angka Perceraian Meningkat, Menag: Kita Lebih Intensifkan Pendidikan Pra Nikah
Lalu degradasi moral seperti kerusakan otak akibat pornografi, lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), serta seks bebas dan sebagainya yang mendorong perselingkuhan dan kerusakan ketahanan keluarga.
“Termasuk akhlaq yang buruk, kepercayaan diri yang lemah, kecerdasan emosi yang buruk, serta keterampilan hidup yang kurang,” paparnya.
Rahmi mengingatkan, jika kasus perceraian terus meninggi maka berdampak pada lembaga keluarga yang menjadi tidak penting. Dan akhirnya banyak yang memilih untuk tidak menikah.
“Jika lembaga keluarga hancur maka hancur negeri ini. Karena akan mudah juga masuknya perilaku seksual menyimpang, termasuk LGBT,” pungkasnya, Jumat (19/01/2018) itu.*
Baca: Menag Prihatin Meningkatnya Angka Perceraian dan Kekerasan Rumah Tangga