Hidayatullah.com– Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan, narasi radikalisme yang ramai di Indonesia merupakan proposal Amerika Serikat di akhir pemerintahan Presiden George Bush dibawa ke Indonesia, yakni War on Teror.
“Di sana sudah enggak laku, sudah ditelanjangi itu kelakuan FBI. Salah satunya ada di temuan Washington Post,” ujarnya dalam diskusi ‘Radikalisme di Kampus: Fakta atau Propaganda?’ di Gedung Juang 45, Jakarta, Rabu (25/07/2018).
Fahri mengatakan, narasi itu merupakan proyek Amerika untuk memeras dunia atau cara making money.
Baca: MUI Jatim: Penelitian “Masjid Terpapar Radikalisme” Tendensius dan Diskriminatif
“Begini, Amerika kan polisi dunia, kalau dunia aman biaya pengamanan tidak ada. Jadi dibikin kacau biar biaya pengamanan datang,” ungkapnya.
Ia mengatakan, hal itu juga disebut dengan terror factory, dimana negara menciptakan masalah supaya bisa memakai uang APBN, dan terus begitu supaya rakyat diperas.
“Kita ini dijebak dengan terror factory,” ucapnya.
Sayangnya, di Indonesia, terang Fahri, ketika narasi-narasi radikalisme ini dikeluarkan, sekaligus mengkriminalisasi kata “syariat”, “khilafah”, “jihad”, “jamaah”, dan sebagainya. Interpretasinya dibuat sempit.
Baca: Soal “Masjid Terpapar Radikalisme”, Dr Henri: Tak Semua Penelitian Menjelaskan Fakta
“Padahal sebelum ada republik ini, itu adalah kata-kata yang menyelamatkan Indonesia, dulu ketika mengusir penjajah tidak menggunakan SK presiden, mana ada orang mau jihad pakai Keppres,” jelasnya.
Menurut Fahri, narasi-narasi itu tidak saja hendak menyudutkan Islam tapi juga karena tidak mengerti sejarah bangsa Indonesia.*
Baca: Pemuda Muhammadiyah Nilai AS Picu Produksi Terorisme dan Radikalisme