Hidayatullah.com– Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Sukmandaru Prihatmoko, menjelaskan, kulit atau kerak bumi terus bergerak secara dinamis.
Gerakan itu menghasilkan konfigurasi tektonik yang bisa menimbulkan baik sumber daya positif seperti sumber daya mineral, sumber daya panas bumi, sumber daya migas, dan lain sebagainya.
Juga menghasilkan ancaman atau potensi bahaya seperti gempa bumi, tanah longsor, letusan gunung api, dan lain sebagainya.
Secara geologi, kata dia, Indonesia terletak di jalur tektonik sangat aktif. Ini dikarenakan interaksi tiga lempeng major dan lempeng-lempeng mikro. Akibatnya gempa bumi dan ikutannya (tsunami, likuifaksi, tanah longsor) serta letusan gunung api adalah hal yang jamak (ring of fire).
“Kita hidup di daerah rawan bencana. Sehingga tidak ada pilihan bencana harus kita hadapi dengan kesipan tinggi kapan saja. Kewaspadaan dan kesadaran akan daerah rawan bencana harus terus ditingkatkan. Tugas kita bersama, pemerintah dan masyarakat,” seru Sukmandaru dalam acara literasi bencana di ruang teater Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (15/10/2018).
Baca: Gempa dan Tsunami di Palu-Donggala Sudah 11 Kali Terjadi
Ia mengusulkan agar sosialisasi dan edukasi tentang bencana harus lebih dilembagakan sekarang.
“Kita akan mendorong –kalau bisa itu– dimasukkan ke kurikulum sejak pendidikan dini, misalnya SD. Sehingga masyarakat atau bangsa Indonesia sadar bahwa kita hidup, tinggal, tidur di tempat rawan bencana,” ucapnya.
Baca: Perlu Mengubah Pola Pikir Hadapi ‘Kepungan’ Potensi Gempa
Gempa Lombok dan Palu, kata dia, memberikan data dan info baru tentang banyak hal (teknis maupun non-teknis).
Ia menegaskan, hasil kajian atau riset harus disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan bersama implementasinya bagi penyusunan strategi mitigasi bencana yang bersifat lokal maupun nasional.* Andi
Baca: ‘7 Pelajaran dari Gempa NTB Agar Tak Terulang di Sulteng’