Hidayatullah.com– Sebagai wilayah yang berada di patahan aktif Palu-Koro, menjadikan Palu dan Donggala wilayah yang rawan gempa dan tsunami.
Terbukti, gempa dan tsunami menghantam Donggala serta Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/09/2018) bukanlah pertama kali terjadi di wilayah ini.
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, gempa dan tsunami sudah terjadi 11 kali sejak 1927 di wilayah tersebut.
Dari data BNPB, di antara gempa dan tsunami terparah terjadi di pantai barat Donggala pada 14 Agustus 1938. Ketinggian tsunami mencapai 8 hingga 10 meter, 200 korban meninggal dunia, 790 rumah rusak, seluruh desa di pesisir barat Donggala hampir tenggelam.
Di era tahun 2000-an, tercatat 3 gempa besar menerjang wilayah ini. Tepatnya 24 Januari 2005 gempa berkekuatan 6,2 SR mengguncang Sulawesi tengah. Pusat gempa terletak 16 kilometer arah tenggara Kota Palu. Sedikitnya, 100 rumah rusak, satu orang meninggal dan empat luka-luka.
Lalu, gempa berkekuatan 7,7 SR berpusat di Laut Sulawesi pada 17 November 2008. Fenomena alam ini mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Dampak dari gempa tersebut mengakibatkan empat orang meninggal.
Gempa juga terjadi saat masyarakat Sigi dan Parigimontong tengah berpuasa, tepatnya 18 Agustus 2012. Gempa berkekuatan 6,2 SR mengakibatkan delapan orang meninggal dan tiga kecamatan terisolasi.
Baca: Hafizhah 30 Juz Santri Terbaik Meninggal Tertimpa Bangunan Saat Gempa
Menurut Sutopo, Provinsi Sulawesi Tengah memang menjadi salah satu wilayah di Indonesia yang rawan gempa, khususnya di Kota Palu dan Kabupaten Donggala.
Wilayah Palu dan Donggala, kata Sutopo, dilewati oleh sesar patahan Palu-Koro yang setiap tahun bergeser atau bergerak 35 milimeter sampai dengan 45 milimeter, sehingga patahan Palu-Koro menjadi patahan dengan pergerakan terbesar kedua di Indonesia, setelah patahan Yapen, Kepulauan Yapen, Papua Barat, dengan pergerakan mencapai 46 milimeter per tahun.
“Patahan ini pernah menyebabkan gempa dengan magnitude 7,9 skala richter,” ucap Sutopo di Graha BNPB di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (29/09/2018).*/Rofi Munawar, dari berbagai sumber
Baca: Palu Masih Mencekam, Mayat-mayat Bergelimpangan Belum Dievakuasi