Hidayatullah.com–Penasehat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Haikal Hassan mengaku telah menemui tiga pelaku dari anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang membakar bendera tauhid di Polres Garut.
Hal ini Haikal sampaikan dalam acara talk show bertajuk “Liberalisme, Kebencian dan Politik Adu Domba, Dibalik Pembakaran Bendera Tauhid” di AQL Islamic Center, Jakarta Selatan, (25/10/2018).
Menurut Haikal, ketiga pelaku yang masih berstatus sebagai saksi itu sudah menyesali perbuatannya. Ketiga pelaku mengaku melakukan pembakaran bendera berdasarkan instruksi dari atasan mereka.
“Karena pimpinan kami menyuruh tidak ada bendera selain bendera Merah Putih,” ujar Haikal menceritakan jawaban salah satu pelaku pembakaran.
Baca: Polda: 3 Orang Terkait Pembakaran Bendera Masih di Polres Garut
Haikal kemudian meyakini bahwa pelaku tahu kalau bendera yang dibakar adalah bukan bendera HTI. Hal ini disampaikan pelaku pembakaran ketika Haikal menanyakan perihal bendera HTI.
“Mestinya kamu gunting dulu bendera HTI nya. Baru kamu bakar yang itu, yang lain kamu lipat. (Kemudian pelaku menjawab) Enggak ustadz, gak ada bendera HTI,” tambah pria yang akrap disapa Babe Haikal menceritakan jawaban para pelaku pembakaran.
Karena itu Haikal meyakini tidak ada bendera HTI dalam kejadian pembakaran di rangkaian acara Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 di alun-alun Blubur, Limbangan, Garut.
“Itulah yang terjadi. Tidak ada bendera HTI. Yang dibakar adalah bendera ada kalimat tauhid,” tegas Haikal yang disiarkan Live Streaming di Youtube @AQL Islamic Center.
Baca: Muhammadiyah Minta Pemerintah dan Polisi Adil, Objektif, Bijaksana
Karena itulah membuat Haikal curiga ada agenda tersembunyi di balik ini. Ia menyebut ini polarasi yang sengaja diciptakan agar terjadi konflik dan berujung chaos.
Sedangkan dalam satu agenda yang sama. Acara yang dibawakan oleh Erick Yusuf ini, Bachtiar Nasir berpesan untuk menyikapi tragedi pembakara bendera tauhid dengan bijak. Jangan sampai kasus ini membuat bangsa ini terpecah.
Da’i yang sering disapa UBN mengingatkan pentingnya ghirah untuk melaksanakan nahi munkar, tapi waspada jangan sampai perpecahan terjadi.
“Tanda-tanda Allah mengazab suatu bangsa kalau diantara mereke sudah bermusuhan, saling membenci dan saling menyalahkan,” demikian pesan Bachtiar Nasir.*/Rofi Munawar