Hidayatullah.com– Aktivis Tionghoa Lieus Sungkharisma meski menjadi salah satu orator pada aksi bela Muslim Uighur di depan Kedubes China, Jakarta, kemarin, mengakui, ikut aksi itu tak membuatnya takut dengan pemerintah China.
“Karena kita bicara masalah kemanusiaan. Di mana aja ada yang mendzalimi, itu harus kita lawan,” tegasnya.
Dalam orasinya, ia mengungkap, berdasarkan pemberitaan media, tempat sekolah yang dibangun otoritas China di sana sebenarnya adalah tahanan. Mestinya, kata dia, presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) marah atas kejadian di Uighur ini.
“Tanya kedutaannya, bener ga? Ini mesti kita yang marah-marah dulu.
Yang ada ini pemerintahnya enggak berani tegas. Ini ga ada yang ngumpul-ngumpul ribut kalau pemerintahnya langsung marah. Langsung protes. Kirim tim penyidik. Kasih nota keberatan. Kita nggak usah begini-gini,” ucapnya.
Ini, menurutnya, masalah gengsi bangsa. Sebab, kata dia, walaupun Indonesia adalah negara Pancasila, tapi jumlah umat Islamnya terbanyak di dunia.
“Jadi presidennya harus berani menyuarakan yang lantang. Yang di Istana mesti bergerak cepat karena ini masalah gengsi bangsa. Karena (politik luar negeri) kita kan bebas aktif. Kita harus bersuara kalo ada ketidakadilan. Apalagi sesama Muslim itu kan bersaudara,” terangnya aktivis non-Muslim ini.* Andi