Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Teror Masjid Selandia Baru Akibat Usaha Adu Domba Antar Agama

Ahmad
Terakhir diupdate: 19 Maret 2019 21:20 9:20 pm
Ahmad
Dipublikasikan 18 Maret 2019 18:15
Bagikan
Dr Hamid Fahmy Zarkasyi
Bagikan

Hidayatullah.com–Teror yang terjadi di  dua masjid di Christchurch, Selandia Baru Baru (New Zealand) hari Jum’at (15/03/2019) yang menelan 50 korban bermotif rasa kebencian terhadap umat Islam.

“Masyarakat dunia dewasa kini dihadapkan dengan isu-isu yang kerap kali membenturkan antar agama satu dengan lainnya. Misalnya upaya memunculkan stigma bahwa agamalah pemicu sikap radikalisme, dengan beragama seolah-olah tidak lagi memiliki rasa aman, karena telah terkontaminasi sikap radikal, “ demikian disampaikan Wakil Rektor I UNIDA Gontor, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil, dalam ceramah usai shalat Magrib di Masjid Jami’ UNIDA Gontor, Ponorogo, belum lama ini.

Peristiwa yang sama terjadi di India. Bagaimana beberapa kampung umat Islam dibakar oleh orang-orang Hindu. Termasuk yang terjadi pada orang-orang Muslim Rohingnya.

“Seolah-olah semua di dunia ini diadu domba, yang kemudian menimbulkan sebuah stigma bahwa agama menjadi musuh bersama, dengan wajah yang tergambar sebagai teroris fundamentalis, “tambah penulis buku Misykat ini.

Jadi problem sebenarnya bukan antar Muslim dan Kristen, akan tetapi problemnya yang ingin dimunculkan oleh kelompok tersebut adalah; agama menimbulkan sikap radikal dan terorisme, agar semua agama di anggap salah.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Baca:  Fahri: “Radikalisme” Proyek Amerika Dibawa ke

Lebih lanjut, Hamid mengutip sebuah buku yang berjudul “Is Religion Killing Us?”, bagaimana penulis buku menjelaskan bahwa semua kitab suci agama Yahudi, Nasrani dan Islam diperintahkan untuk saling membunuh.

Padahal konteks yang di maksud tentu bukan seperti itu. Misalnya, dalam Islam itu ada sebuah perintah قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dalam Surat At-Taubah 29).

Seharusnya ayat di atas dipahami konteksnya, dan tidak dipahami secara sepenggal-sepenggal. Sebab kondisi di atas terjadi adalah jika berada pada situasi perang.

“Kata qootiluu dalam bahasa Arab juga tidak selalu berarti “bunuhlah”, tapi juga dapat bermakna “perangilah”. Konteks “perangi” juga tidak boleh diartikan di luar konteksnya, pemaknaannya juga perlu disesuaikan dengan kondisi perang dengan kondisi tidak perang. Tapi sebagian orang memahaminya sebagai tindakan kekerasan (radikal).”

Baca: ‘Radikalisme’ dan ‘Terorisme’

Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini juga mengutip teorinya Samuel Huntington dalam bukunya “Clash of Civilizations”, dikatakan bahwa yang menjadi target dunia adalah Islam.

Karena semua fanatisme kebangsaan, ras dan nasionalisme juga telah berakhir dengan adanya globalisasi, tetapi sebagai pengganti nasionalisme adalah fanatisme keagamaan yang saling dibenturkan sehingga menimbulkan konflik peradaban (Clash of Civilizations).

“Maka agama yang saling dibenturkan menimbulkan sebuah sikap radikal yang mereka sebut sebagai terorisme. Sebetulnya tidak ada dalam agama pemahaman yang demikian, akan tetapi negara-negara besar, kemudian media-media ikut mempelopori paham-paham terorisme untuk menebar bahwa agama adalah memicu radikal. Pada akhirnya agama menjadi bulan-bulanannya para aktivis sekuler, dengan menganggap bahwa agama ini berengsek,” tambahnya.

Sekarang ini zaman telah berganti, sekarang sudah zamannya relativisme di era modernisme dengan mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang hakiki, tidak boleh lagi berpikir absolutis, semunya relativif. Paham relativisme, dimana di Barat sendiri orang tidak lagi mencari kebenaran, akan tetapi mempertanyakan kebenaran. Makanya banyak sekali keyakinan yang kini dipersoalkan, tambahnya.

Baca:  Kampanye Homoseksualitas: Antara Toleransi dan Relativisme

Ia mencontohkan, kata iman saja maknanya diubah oleh orang-orang positivisme.  Agar paham relativisme diterima oleh semua orang di dunia, maka dibentuklah stigma adanya radikal dalam bentuk terorisme.

“Maka Islam akan terus dipojokkan, disudutkan dengan paham-paham radikal. Agama lain juga sama, diprovokasi sehingga muncul stigma bahwa agama dianggap salah. Ketika agama dianggap salah, maka lebih baik tidak beragama. Bahkan kita diharuskan menerima kepercayaan atau hal apapun yang menyimpang dengan dalil kita ini semua sama (humanisme), kebenaran tidak lagi ditentukan oleh oma hukum agama, kemanusiaanlah yang menjadi penentu didalam masyarakat. Inilah pemahaman yang diinginkan oleh orang-orang atheis.”

Inilah adalah drama dunia, dimana umat akan dihadapkan dengan pembenturan agama, dengan isu-isu radikalisme, terorisme dan toleransi, katanya.

Karena itu, alumni University of Birmingham, Inggris ini mengingatkan para mahasiswa tentang bahaya pemikiran dan paham liberal.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Christchurchmasji an noor Selandia BaruSelandia BaruterorTeror di Masjid Selandia Baru
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Banjir Susulan di Sentani Papua disebut Lebih Parah
Tulisan selanjutnya Aksi Solidaritas untuk Muslim Selandia Baru

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?