Hidayatullah.com–Mencermati dinamika, perkembangan politik, situasi keamanan dan kehidupan rakyat dan umat Islam di Afghanistan, Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI menyampaikan beberapa tausyiah. MUI berharap wajah Afghanistan yang baru lebih damai, mengedepankan musyawarah, perdamaian, persatuan, persaudaraan, dan tolong-menolong.
“Mengimbau kepada para pemimpin politik dan suku serta semua pihak di Afghanistan untuk mengedepankan musyawarah, perdamaian, persatuan, persaudaraan, tolong-menolong, sehingga tercipta tatanan kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan yang lebih kuat, berdaulat, dan bermartabat di Afghanistan,” demikian salah satu bunyi “Tausyiah MUI tentang Perkembangan Situasi di Afghanistan”, Selasa (7/9/2021) yang ditandatangani Ketua MUI Pusat KH Miftachul Ahyar dan Sekjen MUI, H. Amirjah Tambunan.
Untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik di Afghanistan, MUI menyarankan semua komponen di Afghanistan meneladani Nabi Muhammad ﷺ saat memulai membangun Negara Madinah. Dimana kota itu dibangun dengan merukunkan dan mendamaikan antara Suku Aus dan Khazraj yang telah bertikai selama ratusan tahun.
“Dua suku ini kemudian dikenal dengan sebutan Sahabat Anshor.”
Selain itu, juga mempersaudarakan dan mempersatukan antara Sahabat Anshor dan Muhajirin. ”Menciptakan persatuan antar suku, kelompok, dan penganut agama untuk membangun dan membela Negara Madinah sebagai negara yang heterogen, multi suku dan multi agama.”
Sebagai wujud pelaksanaan amanat konstitusi khususnya Pembukaan UUD 1945, MUI berkepentingan mendorong terciptanya penyelesaian masalah dan perdamaian abadi di Afghanistan. Salah satunya mendorong adanya pemenuhan hak-hak warga negara termasuk hak-hak perempuan dan anak.
“Semua upaya di atas dilakukan untuk terwujudnya kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan di Afghanistan yang merdeka dan berdaulat,” demikian bunyi Tausyiah MUI.
MUI juga mendorong pemerintah untuk terus menjalin kerjasama dengan negara-negara Muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan badan Internasional lainnya dalam rangka memberikan bantuan kemanusiaan dan solusi perdamaian abadi di Afghanistan. MUI juga mengimbau kepada semua pemimpin negara-negara di dunia dan masyarakat internasional untuk tidak melakukan intervensi terhadap proses politik internal di Afghanistan.
“Mengimbau kepada semua pemimpin politik, suku dan elemen masyarakat Afghanistan untuk melakukan prosespolitik secara damai sehingga terbentuk pemerintahan yang berdaulat,” kata MUI, “Mengimbau kepada masyarakat,terutama umat Islam Indonesia, agar dalam menyikapi masalah Afghanistan lebih mengedepankan sikap Wasathiyah, konstruktif dan menghindari sikap-sikap yang dapat memicu dan menimbulkan pertentangan dan polarisasi di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam.”
Selanjutnya MUI mengajak seluruh umat Islam memanjatkan doa semoga Allah melindungi rakyat Afghanistan dan segera tercipta perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan di Negara itu.*