Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Ketum PBNU Sebut Islamofobia Warisan Perang yang ‘Mengatasnamakan Agama’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 April 2022 11:22 11:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 April 2022 11:30
Bagikan
radikalisme
Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf
Bagikan

Hidayatullah.com — Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, baru-baru ini menyampaikan pandangan bahwa islamofobia tidak lahir karena tragedi WTC 11 September 2001. Islamofobia, menurutnya, hadir sejak lama karena perang yang “mengatasnamakan agama” ratusan tahun.

“Kenapa kita punya seperti ini (islamofobia)? Karena kita mewarisi sejarah dari konflik yang panjang sekali selama berabad-berabad antara dunia Islam melawan dunia non muslim. Misalnya, selama 700 tahun berkuasa, Turki Utsmani tidak berhenti sama sekali berkompetisi militer melawan kerajaan-kerjaan Kristen Eropa di Barat, ” ujarnya saat mengisi Webinar MUI bertema Turn Back Islamophobia, Rabu (30/03/2022).

Selain di dunia barat, Yahya menyebutkan, kerajaan Islam Mughal di India yang berperang dengan umat Hindu di India juga ikut andil. Semua kuil di India bagian utara saat ini, menurutnya, tidak ada yang berusia lebih dari 200 tahun. Sebab, ujar Yahya, semasa zaman kerajaan Mughul, semua kuil dihancurkan.

Yahya menyampaikan, akibat perang itu membekas sampai menjadi wacana di masing-masing pihak.

“Kalau di kalangan Islam ada istilah Islamofobia. Di kalangan non-muslim ada kekhawatiran sama yang dia sebut kafirofobia. Pemahaman seperti ini seperti mengendap dan tumbuh dalam wacana keagamaan masing-masing pihak,” ujarnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Tidak hanya pada masalah agama, menurut Yahya, corak berpikir masyarakat zaman ratusan tahun lalu adalah tentang kekuasaan dan wilayah. Adanya Agresi Militer Belanda pasca Indonesia merdeka, kata dia, juga membuktikan bahwa kesadaran wilayah itu belum muncul ketika itu.

Dibandingkan konflik yang sudah berjalan lama itu, menurut Yahya, wacana mencari jalan tengah baru muncul belum genap seratus tahun yang lalu. Kelahiran piagam PBB pada Juni 1945, ujarnya, menandai kesadaran berbagai bangsa untuk mewujudkan perdamaian bersama.

Yahya mengatakan, kelahirkan piagam PBB itu mewujudkan tata dunia baru yang modern dan lebih damai. Piagam PBB, katanya, memiliki dua komponen penting terkait perbatasan wilayah internasional dan nilai kemanusiaan yang universal (HAM).

“Sebetulnya, wacana toleransi dan moderasi merupakan sesuatu yang baru datang kemudian. Dulu dunia ini merupakan rimba persaingan antara identitas baik dalam wilayah agama, negara, maupun kerajaan yang membawa identitas masing-masing, ” ucapnya.

Yahya mengklaim, umat Islam bisa berperan mengurai sisa-sisa perang (Islamofobia) itu dengan cara beragama yang moderat. Ia menyampaikan, penyebutan kafir menjadi “tidak relevan dalam usaha untuk mencapai perdamaian itu”.

Tanpa cara beragama Islam yang moderat, menurutnya, dunia akan tetap diliputi ketakutan, kekhawatiran, serta menimbulkan Islamofobia.

“Syarat berlangsungnya toleransi yaitu kesetaraan hak dan martabat di antara sesama umat manusia. Perbedaan latar belakang identitas tidak boleh jadi alasan untuk mendiskriminasi kelompok yang berlawanan. Semua setara di depan hukum dan dalam nilai kemanusiaan universal,” ujarnya.

Dia menambahkan, menurutnya, mentalitas masyarakat saat ini terbentuk karena wacana keagamaan. Untuk itu, ia mengklaim, butuh konstekstualisasi agama kembali untuk menghapus permusuhan-permusuhan berbasis agama di tengah masyarakat.

“Upaya tersebut bisa dilakukan lebih lanjut yang kemudian disusul dengan sebuah strategi. Sehingga pola pikir umat yang cenderung masih memelihara permusuhan satu sama lain dapat dihapuskan, ” katanya.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamofobiaKetua Umum PBNUmoderasi beragamaperang agamaYahya Cholil Staquf
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Yordania: Ribuan Orang Berbaris Mendukung Palestina, Menolak Normalisasi dengan ‘Israel’
Tulisan selanjutnya negara seperti nabi Mahfud MD Sebut Haram Hukumnya Dirikan Negara Seperti Nabi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?