Hidayatullah.com- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menghargai adanya penetapan Hari Santri Nasional, meskipun dalam struktur internal kepengurusan MUI sendiri ada salah satu petinggi yang menyatakan tidak sependapat.
“Bukan sebagian, satu pengurus saja yang menolak. Tetapi, pengurus yang lain kan setuju. Jadi, MUI nggak ada masalah terkait penetapan Hari Santri Nasional itu,” demikian disampaikan Ketua Umum MUI Pusat KH. Ma’ruf Amin menanggapi kontroversi penetapan Hari Santri Nasional usai acara konferensi pers di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Rabu (21/10/2015).
Bahkan, Kiai Ma’ruf melanjutkan, pemerintah juga telah menetapkan Hari Santri Nasional. Karena itu, lanjutnya, MUI juga memberikan penghargaan kepada Presiden Jokowi yang telah menetapkan Hari Santri Nasional.
“Santri itu sangat besar nilai kesejarahannya, dan Hari Santri Nasional ini penghargaan kepada peran para santri dan ulama dalam rangka membela negara. Selama ini paling yang ada masih secara umum seperti hari guru.”
“Nah, karena itu giliran santri diberi penghargaan dengan penetapan Hari Santri Nasional.”
Kiai Ma’ruf mengatakan followup dari Hari Santri Nasional yaitu santrinya sendiri harus melanjutkan jihad para pendahulu dalam arti yang sekarang yaitu pembangunan. Menurutnya dulu jihad itu dalam bentuk perang tetapi sekarang jihad itu mengandung arti al-Ishlah (melakukan perbaikan dalam kehidupan berbangsa dan bertata negara supaya lebih baik,red).
“Nah, di sini santri harus mengambil peran seperti yang dilakukan oleh para pendahulu, maka jangan sampai santri itu meminta peran,” tandas Rais Aam Suriah PBNU ini.*