Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Sejarawan: Pancasila Bukan Milik Soekarno Saja, Umat Islam Berperan Besar

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 2 Juni 2022 20:28 8:28 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 2 Juni 2022 20:30
Bagikan
Sejarawan Anhar Gonggong di ruang FPKS, Gedung DPR RI, Jakarta, diskusi tentang Mosi Integral Natsir, Senin (03/04/2017).
Bagikan

Hidayatullah.com– Sejarawan Anhar Gonggong mengungkapkan, Pancasila bukanlah milik Seokarno seorang saja. Sebab banyak pihak yang ikut terlibat dalam menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.

Memang, Anhar mengakui bahwa Soekarno merupakan orang yang pertama kali merumuskan Pancasila, tetapi pada proses menjadikannya sebagai dasar negara, banyak jasa dari para tokoh, terutama dari kalangan Islam.

“Jadi adalah salah kalau orang mengatakan bahwasanya seakan-akan Pancasila itu hanya miliknya Soekarno. Benar memang bahwa Soekarno yang merumuskan pertama kali, tapi dalam proses menjadi dasar negara, Islam punya peranan sangat besar,” ujar Anhar dalam acara Literasi Kebangsaan Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) bertema Menalar Doktrin Pancasila: Disrupsi Sejarah antara 1 Juni dan 18 Agustus dikutip website resmi UICI pada Kamis (02/06/2022).

Ia menegaskan, Pancasila merupakan konsensus dari dua kekuatan pada saat itu, yaitu nasionalis sekuler dan nasionalis Islam.

Terang Anhar, lahirnya Pancasila bermula dari sebuah sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Kala itu Radjiman Wedyodiningrat menanyakan apa dasar negara setelah merdeka.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Peserta sidang kala itu tak ada yang menjawab, kecuali Soekarno. Soekarno menyampaikan pidato tentang Pancasila sebagai dasar negara. Jawaban Soekarno itu mendapat tepuk tangan dari anggota sidang.

Setelah itu, Radjiman membentuk panitia delapan. Terdapat delapan orang dengan perbandingan tidak seimbang, yaitu dua orang nasionalis Islami dan enam orang nasionalis sekuler.

Melihat itu, Soekarno pun mengumpulkan 38 anggota BPUPK. Dari 38 anggota itu, Soekarno membentuk panitia kecil berjumlah 9 orang yang kemudian melahirkan Piagam Jakarta. Rencananya, hasil Piagam Jakarta itu akan menjadi naskah proklamasi kemerdekaan dan akan menjadi pembukaan UUD.

Oleh karena itu, jelas Anhar, jasa umat Islam dalam Piagam Jakarta itu sangat besar. Tuturnya, setelah Proklamasi Kemerdekaan, sore harinya Mohammad Hatta perwakilan dari perwakilan Kristen Katolik dan Protestan dari Indonesia Timur. Pada intinya, mereka menyampaikan keberatannya terhadap isi dari dari piagam pada tujuh kata “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Keesokan harinya, Hatta mengumpulkan para pemimpin umat Islam, terdiri dari Kasman Singodimejo dari Muhammadiyah, Ki Bagoes Hadikoesoemo dari Muhammadiyah, Wahid Hasjim dari Nahdlatul Ulama (NU), dan Teuku Muhammad Hasan untuk membahas usulan dari perwakilan Kristen Katolik dan Protestan dari Indonesia timur.

Tidak kurang dari 15 menit hal yang sangat penting bisa diselesaikan. Tujuh kata yang ditolak itu digantikan dengan tiga kata, “Yang Maha Esa” sehingga menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

“Ini adalah toleransi para pemimpin Islam,” ungkap Anhar.

Anhar juga menjelaskan, lahirnya Pancasila bermula dari pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Pidato itu lalu diterbitkan menjadi sebuah buku pada tahun 1947 berjudul Lahirnya Pancasila.

Terkait itu, menurut Anhar, ada kekeliruan masyarakat dalam melihat Pancasila dari berbagai perspektif. Misalnya, kata dia, pandangan yang mengatakan bahwa pada 1 Juni, Pancasila telah menjadi dasar negara.

“Oleh karena itu dosen saya, Profesor Notonegoro menggunakan istilah ada dua calon dasar negara menurut Profesor Notonegoro, dosen saya di Gadjah Mada. Yaitu tanggal 1 Juni adalah calon dasar negara yang dirumuskan oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni. Calon dasar yang kedua adalah yang dirumuskan pada tanggal 22 Juni yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta dan nama ini, istilah ini adalah istilah yang diberikan oleh Yamin sebagai anggota panitia sembilan,” kata Anhar dalam acara pada Rabu (01/06/2022) itu.

“Kemudian pada tanggal 18 Agustus baru (Pancasila) menjadi dasar negara karena kemarinnya, yaitu 17 Agustus 45 kita menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia,” tambah Anhar.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, katanya, belum ada negara, sebab yang menyatakan kemerdekaan adalah bangsa Indonesia. Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945, baru ada negara bersamaan dengan dirumuskannya sejumlah hal, termasuk diterimanya butir-butir Pancasila menjadi pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Lalu ada wilayah negara, ada penentuan Presiden dan Wakil Presiden lalu kemudian ada menteri-menteri dan sebagainya,” paparnya.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Anhar GonggongBPUPKIpancasilasejarawanSoekarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjidil Haram Bolehkan Buka Puasa Senin-Kamis dan Hari Ayyamul Bidh
Tulisan selanjutnya 105 Pesantren Bentuk Badan Usaha Milik Pesantren, Diresmikan Bersamaan Hari Santri 2022

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah

Berita
25 Juni 2026 11:39
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
Trump Sebut Dana Iran yang Dibebaskan Akan Dipakai Beli Produk AS

Terbaru

  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
  • Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah
  • Iman, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Kebangkitan Umat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?